Bamsoet Luncurkan Buku ke-18, Tetap Segar Jangan Ngeres

Bamsoet Luncurkan Buku ke-18, Tetap Segar Jangan Ngeres

JawaPos. com – Pemimpin MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) kembali meluncurkan buku terbaru, judulnya, “Tetap Waras, Jangan Ngeres”. Tampang ke-18 yang ia tulis tersebut memuat refleksi pemikiran dirinya semasa setahun terakhir.

Sendi ini terbagi dalam dua arah, sebelum dan sesudah Indonesia didera pandemi Covid-19. Di dalamnya terdapat otokritik dalam menghadapi pandemi Covid-19, yang terkadang justru malah menghilangkan nalar kebangsaan.

“Judul buku “Tetap Waras, Jangan Ngeres”, bermakna pemimpin dari tingkat tengah hingga daerah harus memberikan harapan, bukan menimbulkan kecemasan. Pejabat menyerahkan informasi akurat bukan menutupi kebenaran. Rakyat seharusnya taat pada metode bukan melanggar, ” ujar Bamsoet dalam peluncuran bukunya di Jakarta, Selasa (10/11).

Turut hadir antara lain Wakil Kepala Komisi III DPR RI/Bendahara Umum Partai Nasdem Ahmad Sahroni, Anggota Komisi III dan Ketua MKD DPR RI/Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aboe Bakar Al Habsyi, Ketua Umum BS Center Ahmadi Noor Supit, Ketua Pelaksana/Ketua Dewan Pakar BS Center Prof. Didin Damanhuri, Rektor Universitas Nusantara Prof. Ari Kuncoro, Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dwia Aries Tina Pulubuhu, dan Dosen Universitas Paramadina Prof. Abdul Hadi serta Pemangku Kepala Kepolisian Republik Indonesia 2011-2013 Komjen Pol (purn) Nanan Soekarna.

Ketua DPR MENODAI ke-20 ini menekankan, daripada giat berwacana tentang rekayasa atau teori konspirasi dibalik pandemi Covid-19, jauh lebih baik jika semua karakter mencurahkan waktu dan pikirannya buat peduli terhadap penanganan pandemi Covid-19. Salah satunya melalui disiplin mengarahkan protokol kesehatan. Data kasus Covid-19 di dalam maupun di sungguh negeri harus dilihat sebagai suatu fakta, bukan malah dijadikan bahan akrobat untuk berwacana.

“Lebih dari satu juta orang di dunia (empat belas seperseribu lebih diantaranya adalah warga Indonesia) telah meninggal dunia karena virus Covid-19, ” ujar Bamsoet.

Angka ini, lanjut Bamsoet, seharusnya menyadarkan kita bahwa virus Covid-19 adalah sesuatu yang nyata, bukan bagian dari teori konspirasi maupun sekadar wacana. Semua orang harus terdorong mencari solusi menekan penyebarannya. Saling menyalahkan satu pas lain, maupun menuduh pemerintah lengah mengantisipasi penularan Covid-19, bukanlah hal yang patut dilakukan.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, pandemi Covid-19 sudah menimbulkan banyak kecemasan. Masyarakat kepompongan, tenaga medis dan kesehatan kewalahan, para pengusaha kelimpungan, bahkan negeri pun terkadang terkesan tidak akur. Kejadian ini tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga pada berbagai belahan negara lainnya. Menetapi tidak ada negara yang punya pengalaman menghadapi pandemi Covid-19 dengan bisa dijadikan sebagai rujukan.

Sebab, dalam situasi kritis, khawatir berlebihan atau terlalu melecehkan masalah merupakan sikap yang tidak boleh dilakukan, karena malah akan membuat persoalan tambah runyam. Karena itu saya mengajukan pentingnya kita tetap menjaga kesadaran dan tepat sehat.

“Tetap waras. Waras dalam arti tetap masuk akal, terukur, namun juga waspada. Mengikuti jangan Ngeres, yang berarti tidak melakukan tindakan yang bisa mendatangkan instabilitas, ” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Muda Pancasila ini mengingatkan, rencana vaksinasi yang akan dimulai akhir 2020, bukan satu-satunya bisa menyelesaikan bermacam-macam keseluruhan masalah yang ditinggalkan akibat pandemi Covid-19. Masih ada order rumah menata pondasi perekonomian dengan nyaris rusak.

“Pemerintah sedang mengupayakan agar pemulihan ekonomi bisa terjadi pada kuartal IV-2020 dan berakselerasi pada 2021. Optimisme ini tak bisa berdiri tunggal, melainkan dipengaruhi kesadaran masyarakat di menekan penyebaran virus Covid-19 melalaikan kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan, ” tutur Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia itu menambahkan, tak sekadar optimis, negeri juga harus mengantisipasi berbagai peristiwa yang bisa mengoyak perekonomian. Misalnya, dampak kredit macet di bank pemerintah dan swasta yang jumlahnya dikabarkan berpotensi menembus Rp 900 triliun. Jika tak diantisipasi semenjak dini, dampaknya bisa sangat sungguh biasa bagi perekonomian.

“Bukannya pulih pada kuartal IV, perekonomian Indonesia malah bisa bertambah parah dibanding krisis moneter 1998. Ini pekerjaan rumah yang menuntut kita untuk tetap berpikir segar, dan jangan ngeres. Artinya, berbagai kebijakan yang diambil harus berdasarkan pikiran yang jernih, bukan sebab emosi, ” pungkas Bamsoet.

Sebagai catatan, sebelum wacana Tetap Waras dan Jangan Ngeres, Dewan Pakar KAHMI ini telah melahirkan banyak karya buku. Antara lain, Mahasiswa Gerakan dan Pemikiran (1990); Kelompok Cipayung, Pandangan & Realita (1991); Ekonomi Indonesia 2020 (1995); Skandal Gila Bank Century (2010); Perang Perangan Melawan Manipulasi (2011); Pilpres Abal-Abal Republik Lusuh (2011); Republik Galau (2012); serta Skandal Bank Century di Kelokan Terakhir (2013).

Ada pula buku Presiden dalam Putaran Politik Sengkuni (2013); 5 Keras Praktis Menjadi Pengusaha No. satu (2013); Indonesia Gawat Darurat (2014); Republik Komedi 1/2 Presiden (2015); Ngeri-Ngeri Sedap (2017); Dari Kuli ke Senayan (2018); Akal Bugar (2019), Jurus 4 Pilar (2020), dan Solusi Jalan Tengah (2020).