Benarkah Mutasi Virus Korona D614G Bisa Menular 10 Kali Lebih Parah?

Benarkah Mutasi Virus Korona D614G Bisa Menular 10 Kali Lebih Parah?

JawaPos.com – Perjalanan mutasi virus Korona dikhawatirkan bisa membuat daya tular virus menjadi semakin parah. Mutasi Covid-19 juga bisa memengaruhi proses pengembangan vaksin. Baru-baru ini, ahli biomolekuler Universitas Airlangga dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih menemukan karakter mutasi yang mirip D164G. Karakter ini ditemukan di Jawa Timur, Jawa Barat, Surabaya hingga Jakarta.

Sebelumnya, Nyoman saat webinar internasional bertajuk ‘Ending Pandemics Covid-19: Effort and Challenge’ mengutip peta mutasi virus dari analisis jurnal Bette Kober per 20 Agustus. Beberapa waktu lalu Malaysia mengumumkan telah menemukan mutasi virus Korona D164G.

Nyoman mengatakan, mutasi virus Korona banyak ditemukan di Eropa. Studi Korber memberikan hasil bahwa D164G, strain dominan SARS-CoV-2 tampaknya 10 kali lipat lebih menular daripada virus di Wuhan.

Menanggapi temuan mutasi ini, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Soebandrio menjelaskan mengenai mutasi D614G, apakah mengambat vaksin, memperberat penyakit. Singkat cerita, kata dia, mutasi pertama kali ditemukan di Jerman pada Januari lalu. Bulan Februari, bertambah jadi 2 mutasi. Pada Maret, mutasi melonjak menjadi menjadi 1.300 dan saat ini 70 persen dari isolat (bibit mikroorganisme) yang dilaporkan mengandung mutasi tersebut.

“Itu memang dicurigai jadi penyebaran yang cepat. Karena dari lab diinformasikan dia (mutasi virus) menginfeksi lebih cepat,” kata Amin.

Meski begitu, dia menegaskan hal itu belum terbukti secara ilmiah. “Belum terbukti secara ilmiah dari satu orang menyebarkan ke banyak orang. Jadi belum terbukti sahih,” tuturnya.

Amin menambahkan, keberadaan virus itu juga belum terbukti menyebabkan infeksi penderitanya menjadi sulit diobati. “Vaksin tak terganggu mutasi tersebut. Jadi kalau ada isu di luar mutasi di Indonesia sudah banyak. Meski ada 8 dari 22, kami antisipasi akan ada banyak ke depannya,” tuturnya.

Amin menegaskan mutasi virus tak memengaruhi pengembangan vaksin atau obat. “Tapi lebih banyak ke epidemiologi molekuler. Ini tak mempengaruhi pengobatan, vaksin, dan protokol kesehatan,” tandasnya.