Buka Muktamar Pemikiran Dosen PMII, Gus AMI Sampaikan Tiga Prioritas

Buka Muktamar Pemikiran Dosen PMII, Gus AMI Sampaikan Tiga Prioritas

JawaPos. com – Angka kasus Covid-19 di Indonesia belakangan perlahan menunjukkan tren penurunan, meskipun masih cukup tinggi, sebab data pada Minggu (4/4), terdapat 62. 290 peristiwa terkait Covid-19 di Indonesia. Karena itu kata Pemangku Ketua DPR Abdul Muhaimin Iskandar, ada tiga situasi yang harus menjadi preferensi pemulihan (recovery) pasca-pandemi.

“Pertama adalah recovery di bidang ekonomi, khususnya ekonomi pertanian. Kedua ialah pemulihan di sektor pelajaran. Dan ketiga yakni pemulihan di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), ” ujar Gus AMI- sapaan akrab Abdul Muhaimin Iskandar saat membuka Rapat Pemikiran Dosen PMII di Kampus Universitas Islam Kampung (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (5/4).

Patuh Gus Ami, sektor pelajaran menjadi korban yang betul dahsyat dari pandemi tersebut, terutama pendidikan sekolah tingkat menengah yang tidak seluruh bisa mengikuti pola pelajaran online. “Ini harus oleh sebab itu prioritas penanganan pasca-pandemi, ” ujarnya.

“Tiga prioritas ini yang kudu menjadi ujung tombak pati penanganan pasca pademi. Hamba kira ini harus digali dalam Muktamar ini biar bisa menangani keadaan dengan cepat, ” tutur Ketua Umum DPP PKB ini.

Gus AMI pun mengapresiasi gelaran Perhimpunan Pemikiran Dosen PMII dengan pertama ini sebagai cara untuk mencari pemikiran dan berbagai solusi kebangsaan pada tengah pandemi Covid-19.

Baca Selalu: Bom di Katedral Makassar, JK: Kita Tidak Toleransi Segala Bentuk Teror

“Di sedang dahaga keadaan, di pusat mencari solusi yang positif dan efektif, lahir gagasan berfikir menggunakan kajian serta terori di kampus dan luar kampus untuk beriringan mencari, menggagas, menyiapkan periode depan. Bagi saya sebagai ketua parpol optimistis dengan Muktamar ini, ” katanya.

Lebih tinggi, dia berharap melalui Rapat Pemikiran Dosen PMII tersebut akan lahir berbagai solusi penting bagi kehidupan bernegara dan berbangsa di masa yang akan datang.

“Saya pribadi yang berjuang di jalur politik, saya menggantungkan kepada senior-senior pemikir jalan keluar terkemuka untuk Indonesia masa depan sehingga kita bisa cepat mengatasi problem kebangsaan, molek ekonomi, politik dan baik, ” katanya.

Gus AMI yang selalu mantan ketua umum PB PMII juga berharap para-para kader PMII di semesta Indonesia untuk ikut merancang masa depan bangsa menjelma lebih kreatif.

“Ini Muktamar digelar pada Tulungagung, jauh dari sumber pertumbuhan, tapi bukan berguna Tulungagung ketinggalan. Sejak terlihat teknologi informasi canggih, tempat bukan jadi masalah pertambahan. Terpenting dari kemajuan dan persaingan adalah produk & hasil yang dilakukannya. Beta berharap dari Tulungagung lahir pikiran-pikiran, gagasan, solusi dari para dosen dan pandai, ” tuturnya.

Menurutnya, bukan hanya sumber daya manusia (SDM) dengan harus ditata, tapi metode kelola perguruan tinggi serupa harus dievaluasi untuk menghadapi masa depan.

“Saya sudah bertemu secara Pak Mendikbud Nadiem Makarim, salah satu titik temu dengan Pak Nadiem biar proses belajar mengajar di perguruan tinggi tidak makan waktu panjang. Separuh masa di kampus harus dimanfaatkan untuk memingkatkan kapasitas, skill mahasiswa, ” urainya.

Dalam pidatonya, Gus AMI juga menyinggung bahwa bicara mengenai masa pendahuluan Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan Islam. Pun sebaliknya, Islam tidak bisa dipisahkan dari Indonesia.

“Kalau bicara Indonesia terang bicara Islam. Ada yang coba memisahkan, tapi faktanya ketika kita bicara Nusantara harus ada kekuatan Islam. Indonesia tak akan maju tanpa keterlibatan PMII cantik yang masih aktif maupun yang sudah alumni, ” tuturnya.

Hadir dalam Muktamar Pemikiran Dosen PMII tersebut antara asing Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid, Sekjen DPP PKB Hasanuddin Wahid, Ketua Fraksi PKB DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal, Wakil Ketua Komisi IV DPR Anggia Ermarini, Ketua Umum PB IKA PMII Ahmad Muqowwam, serta para dosen serta rektor dari berbagai madrasah tinggi.

Muncul pula secara virtual Kepala Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, Menteri Daerah PDTT Abdul Halim Iskandar, dan sejumlah tokoh penting lain.