Covid-19 Tak Menular lewat Sperma, Rencana Bayi Tabung Tetap Aman

Covid-19 Tak Menular lewat Sperma, Rencana Bayi Tabung Tetap Aman

JawaPos. com – Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD dr Soetomo saat itu sudah membuka lagi pelayanan agenda bayi tabung. Sebelumnya, fasilitas tersebut sempat di-lockdown selama lebih lantaran lima bulan sejak pandemi Covid-19 masuk Indonesia pada Maret semrawut.

Prof dr Tabiat Santoso SpOG (K) menjelaskan, di dalam awal pandemi, pelayanan dihentikan. Sebab, ada kekhawatiran kondisi pasangan suami istri yang berisiko. Begitu selalu risiko penularan yang dikhawatirkan bisa memengaruhi proses bayi tabung. ”Saat itu dikhawatirkan suami terinfeksi Covid-19, lalu spermanya ikut terinfeksi virus. Ternyata tidak seperti itu, ” kata salah seorang ahli fertilitas di Graha Amerta itu.

Pria yang akrab disapa Prof Bus itu menuturkan, di dalam proses kehamilan dengan Covid-19, ternyata penularan secara vertikal tidak terbukti terjadi. Misalnya, infeksi dari suami ke istri melalui sperma. Tetapi, penularan murni terjadi melalui droplet. ”Karena itulah, salah satu pencegahan yang dianjurkan World Health Organization (WHO) maupun pemerintah adalah tetap memakai masker, ” tuturnya.

Melihat kondisi tersebut, Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD dr Soetomo mulai membuka pelayanan agenda bayi tabung pada akhir Juli lalu. Tentu peraturan protokol kesehatan dipenuhi. ”Ada sedikit perbedaan di dalam pelayanan program bayi tabung dalam tengah pandemi Covid-19, ” perkataan dokter obgyn yang juga bekerja di Rumah Sakit Ibu & Anak (RSIA) Kendangsari tersebut.

Budi menyatakan, pelaksanaan kalender bayi tabung mewajibkan pasangan suami dan istri menjalani tes PCR (polymerase chain reaction). Jadi, mereka yang ingin mengikuti program bayi tabung tidak sedang terinfeksi Covid-19. Sebab, kalau mereka terinfeksi, awak yang menangani serta proses kehamilannya ikut berisiko.

Dia mengungkapkan, saat ini sudah ada pasangan suami istri yang mengikuti program tersebut di tengah pandemi. Bahkan sudah tahap pengambilan organ telur dan penanaman embrio. ”Kita juga tidak tahu kapan pandemi ini berakhir. Padahal, pelaksanaan bayi tabung rata-rata bersifat urgen, ” jelasnya.

Pada leler di atas 35 tahun, sendat Budi, cadangan sel telur perempuan sudah menipis. Jadi, jika menduduki masa pandemi berhenti, tidak cakap kondisi pasangan yang ingin memiliki momongan. ”Untuk usia di untuk 35 tahun, banyak risiko yang terjadi. Keguguran pun meningkat, ” ungkapnya.

Budi menuturkan, angka infertilitas di masyarakat sekitar 10 persen. Mereka yang problematis dalam kehamilan memerlukan bayi tabung. Bahkan, setiap tahun selalu tersedia suami istri yang ingin melakukan program bayi tabung.  

Saksikan video menarik berikut ini: