Hanya Sepertiga Target WHO, Testing serta Tracing Covid-19 Masih Kurang

Hanya Sepertiga Target WHO, Testing serta Tracing Covid-19 Masih Kurang

JawaPos. com – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyampaikan agar uji representatif pasien Covid-19 per hari mampu digenjot hingga 30 ribu ulangan. Hanya saja, nyatanya hampir pada setiap hari, uji tes Covid-19 sedang jauh dari angka tersebut. Sama hanya 20 ribu spesimen. Makin pada akhir pekan dan introduksi pekan, uji spesimen anjlok di bawah 20 ribu karena kurangnya SDM dan banyak laboratorium yang libur.

Masalah itu diakui oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, Wiku Adisasmito. Dia mengakui bahwa pemeriksaan orang dengan nasional masih jauh dari tumpuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Standar WHO yaitu pemeriksaan orang 1 per 1. 000 penduduk bola lampu minggu.

“Dilihat bahwa pergerakan jumlah pemeriksaan per orang dari waktu ke waktu berbeda-beda. Kami gunakan standar WHO, ” katanya dalam konferensi pers, Selasa (25/8).

Dengan total penduduk Indonesia lebih dari 250 juta jiwa, maka yang kudu dites adalah sebanyak 267. 700 tes per minggu. Prof Wiku mengakui di Indonesia keseluruhan anyar mencapai 35, 6 persen sebab standar WHO. Artinya masih sepertiganya dari target WHO.

Terlihat sejak Juli ada 89. 712 tes. Kemudian 27 Juli-2 Agustus 85. 402, 3-9 Agustus 90. 063, lalu 10-16 Agustus 89. 123, dan 16-23 Agustus 95. 463.

“Ini memang capaiannya masih jauh daripada target yang diminta oleh WHO dan standar internasional, ” katanya.

“Dan pemerintah RI dengan seluruh Pemda berusaha berpenat-penat memenuhi target ini, sekarang 320 lab di bawah 12 lembaga yang kerja keras tingkatkan testing, ” tambah Prof Wiku.

Tingkatkan Testing, Tracing, dan Isolasi

Sebelumnya baru-baru ini kepada JawaPos. com, Co-Founder KawalCovid-19 Elina Ciptadi menyoroti angka testing dan tracing yang masih minim di negeri air. Paling tinggi baru berlaku di DKI Jakarta.

“Testing, tracing kurang, plus isolasi bagian dari tracing. Baru DKI Jakarta yang mencapai target satu orang per 1. 000 penduduk tiap minggu. Itu minimumnya dengan kalau dikonversi yakni 40 seperseribu tes per hari, ” jelas Elina.

Menurut Elina yang mengutip WHO dalam menetapkan syarat re-opening yakni positivity ratenya harus di bawah 5 upah. Sedangkan bicara Pulau Jawa selalu, angka positivity rate masih belum memenuhi syarat, di atas 5 persen semua.

“1 tes per 1. 000 penduduk per minggu baru DKI Jakarta, yaitu 4 orang per 1000 penduduk per minggu. Sudah 4 kali WHO. Tapi masalahnya apa? Masalahnya DKI belum melewati, positivity rate masih di atas 5 persen. Walaupun tesnya tinggi, akan tetapi positivity rate masih di berasaskan 5 persen. Ini jadi gambaran skala wabah belum menyusut, ” tukas Elina.

“Kita enggak tahu, berapa rate penyaluran wabahnya, kecepatannya berapa. Kita enggak tahu, testing rate di setiap provinsi, enggak semua provinsi bekerja datanya. Orang itu diisolasi berangkat kapan dan gejala kapan. Tracing juga masih rendah, ” tambahnya.

Bagaimana peta kecermatan di tanah air? Menurut Elina, mengamati juga di negara-negara lain dengan melihat ada suatu formula di sebuah wilayah yang lulus menekan angka Covid-19, tracing yang dilakukan yaitu 30 orang bagi kasus positif. “Dan, Indonesia perdana mengisolasi 7 orang per urusan positif. Perlu meningkatkan itu 5 kali, untuk tracing, ” jelasnya.

“Memang mengisolasi karakter segitu banyak enggak mudah. Jika kontaknya banyak, ya banyak yang diisolasi. Tapi di Indonesia, enggak semua bisa begitu. Di Indonesia banyak yang kerja harian, enggak kerja, ya enggak dapat imbalan. Jadi kalau diisolasi 2 minggu, ya masalahnya kompleks banget, ” ungkapnya.

Pihaknya menganjurkan akan lebih murah jika semua kontak erat dilakukan tes swab, hanya jika positif saja yang diisolasi. Kesimpulannya, kata dia, jika ekonomi mau bergerak, Indonesia kudu tes massal.

“Tes massal itu keniscayaan. Untuk ekonomi yang lebih baik. Kalau kita mau kalahkan wabahnya. Ada vaksin, dengan atau tanpa vaksin, rasio wabahnya ini harus kita selesaikan, ” tutupnya.