Hasil Evaluasi PSBB Surabaya Raya, Pengusaha Harus Terapkan WFH

Hasil Evaluasi PSBB Surabaya Raya, Pengusaha Harus Terapkan WFH

JawaPos. com – Hari pertama pengoperasian pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo kemarin (28/4) langsung dievaluasi. Salah satu hasilnya, Pemprov Jatim meminta para pengusaha mengatur jam kerja pegawai. Dengan begitu, kemacetan yang kemarin tampak di beberapa checkpoint tidak terulang.

Sesuai aturan PSBB, kalangan pengusaha memang diminta mengurangi jumlah karyawan yang masuk dewan. Pekerjaan yang bisa dilakukan sebab rumah tidak perlu dikerjakan pada kantor. Namun, konsep work from home (WFH) ternyata belum dilaksanakan semua pengusaha di Surabaya Sundal. Indikasinya, kemacetan panjang terjadi di checkpoint bundaran Waru dan daerah perbatasan lain.

’’Tingkat kepadatan kendaraan di sana benar sangat tinggi, ’’ kata Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Trunoyudo. Dia menjelaskan, PSBB mengharuskan para aparat memeriksa semua kendaraan yang bermaksud masuk Surabaya. Karena itu, berserakan lintas terhambat.

Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono mengatakan sudah berkoordinasi dengan Asosiasi Pengusaha Nusantara (Apindo). Apindo akan meminta para-para pengusaha di Surabaya Raya untuk mengurangi jumlah karyawan yang ngantor. ’’Mereka (Apindo, Red) akan meminta diadakan pembagian jam kerja, ’’ katanya.

Sebagian besar warga yang masuk Surabaya & Sidoarjo adalah pekerja. Mereka tetap diperbolehkan masuk asal memenuhi adat kesehatan dan membawa surat informasi kerja.

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengarungi kekhawatiran masyarakat ketika muncul penuh kerumunan. ’’Karena itu, penumpukan (kemacetan, Red) yang terjadi hari mula-mula PSBB menjadi bahan evaluasi kami, ’’ tegas dia.

Suasana kepadatan kendaraan pada hari pertama PSBB Surabaya Raya di perbatasan Sidoarjo menuju Surabaya, Jumat (28/4/2020). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Tengah itu, pantauan Jawa Pos , kemacetan terparah benar terjadi di bundaran Waru dengan menjadi daerah perbatasan Surabaya–Sidoarjo. Kemacetan terjadi sejak pukul 06. 10 sampai 09. 00. Penumpukan kendaraan terjadi di dua arah, yaitu Sidoarjo dan exit toll bundaran Waru. Banyaknya pengguna jalan membuat petugas kewalahan melakukan pemeriksaan.

Kadishub Surabaya Irvan Wahyudrajat menyatakan, dari 19 titik pos perbatasan di Surabaya, pos bundaran Waru menjadi fokus petugas. Pokok, di sana banyak kendaraan yang hendak masuk Surabaya. Terutama saat jam berangkat kerja. ’’Hari prima memang berat, ’’ katanya kemarin pagi (28/4).

Organ didominasi roda dua. Menurut Irvan, masih banyak warga yang belum tahu adanya PSBB. Akibatnya, banyak kendaraan luar kota yang masuk Surabaya. Padahal, kendaraan yang diperkenankan masuk hanya yang berpelat nomor polisi (nopol) L dan W. Meski begitu, penindakan tetap dikerjakan terhadap kendaraan bernopol L & W yang pengendaranya tidak menggunakan masker.

Pengendara sejak luar Surabaya harus memiliki tulisan keterangan kerja dari perusahaan. Itu pun akan dilihat apakah kongsi tersebut sesuai dengan yang diizinkan beroperasi atau tidak. Jika tidak, polisi akan meminta pengendara putar balik.

Dari pemantauan dalam lapangan, ratusan pengendara harus berputar karena melanggar. Sebagian besar merupakan pengendara roda dua. Salah satunya adalah Faiz Riyadi. Motornya bernopol M. Dia juga tak memiliki surat keterangan dari perusahaan. ’’Saya gak tahu, tak pikir gak kayak gini, ’’ keluhnya.

Hal yang sama terjadi di pos pantau Rungkut Meluluskan. Bahkan, petugas sempat menghentikan bus mini yang penuh penumpang. ’’Jadi, nggak lagi diisi separo. Orangnya penuh di dalam, ’’ perkataan Camat Rungkut Yanu Mardianto.

Tindakan tegas juga diterapkan di pos perbatasan Suramadu. Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Gamis Setyaningrum menuturkan, kendaraan dari Madura yang tidak memenuhi aturan diharuskan putar balik.

Kondisi sedikit lengang tampak di gardu perbatasan Osowilangun. Kanitlantas Polsek Benowo AKP Heri Iswanto mengungkapkan, organ yang melintas menurun dari biasanya. Meski begitu, pihaknya tetap mengabulkan pemeriksaan ketat. Terutama terhadap kendaraan dari luar Surabaya dan Gresik.

Pelanggaran lain tampak di rumah makan, restoran, maka warung kopi. Kemarin masih banyak yang melayani pembeli makan-minum di tempat. Padahal, sesuai aturan, seluruh tempat makan dan minum cuma diizinkan melayani take away ataupun dibawa pulang.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan menyatakan, penumpukan kendaraan di bundaran Waru tersebut terjadi akibat belum tahunya masyarakat soal PSBB. Berpedoman pemantauannya, kondisi serupa tampak dalam Suramadu dan daerah perbatasan lain.

Dia menegaskan, imbauan dan teguran diberlakukan hingga hari ketiga PSBB. Pada hari keempat, sanksi akan diterapkan. Luki berharap masyarakat Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo menaati peraturan PSBB. ’’Sosialisasi tetap kami lakukan agar masyarakat patuh dan paham tentang PSBB, ’’ tegasnya.

Di Sidoarjo, petugas masih menemukan pelanggaran pada beberapa lokasi checkpoint. Misalnya, pada pos polisi Waru. Jalan dibagi menjadi dua lajur. Lajur menyesatkan kiri dilewati kendaraan roda besar. Lajur kanan diperuntukkan roda 4. Sejak pukul 00. 00, petugas menjaga akses utama tersebut.

Kemarin siang (28/4) sebesar pengendara dihentikan petugas. Salah satunya Riana. Dia hendak pulang ke Sidoarjo. Namun, perempuan 40 tahun itu tidak mengenakan masker. Aparat pun memintanya mengenakan masker. Riana bergegas mengambil masker di sakunya. ’’Lupa pakai masker, ’’ ucapnya.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan dan Kasatlantas Polresta Sidoarjo Kompol Eko Iskandar sempat memantau checkpoint Waru. Keduanya melihat alur pemeriksaan pengendara. Pengendara yang tidak memakai masker dihentikan. Suhu badan pengendara diperiksa. Sesudah itu, diminta memakai masker. ’’Kami masih memberikan kelonggaran. Hari perdana warga diimbau memakai masker, ’’ ucap Eko.

Dalam exit toll Sidoarjo, Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji melakukan pemantauan. Pengemudi kendaraan roda empat yang melintas diminta membuka kaca mobil. Maksudnya, petugas ingin melihat pengendara dengan tidak mengenakan masker. Selain itu, memastikan mobil menerapkan physical distancing.

Sumardji menjelaskan, pihaknya sudah memantau 16 checkpoint. Hasilnya, mayoritas pengendara sudah mematuhi petunjuk. Pengendara patuh pada protokol kesehatan tubuh. Mengenakan masker ketika berkendara. ’’Buktinya, sejauh ini baru 10 masker yang diberikan kepada pengendara, ’’ tuturnya.

Namun, tempat mengakui, masih ada pengendara dengan belum sadar. Misalnya, pengendara jentera dua. Meski ada aturan dilarang berboncengan, tetap saja ditemukan pengingkaran. ’’Setelah kami cek, mereka mulia keluarga, ’’ paparnya.

Petugas juga menemukan mobil yang dipenuhi penumpang. Petugas memberikan imbauan. Sesuai aturan, saat PSBB organ roda empat maksimal mengangkut 50 persen dari total kapasitas.