Hidup Suri di Nawaci

Hidup Suri di Nawaci

Malam menumbuhkan pagi. Pagi membuahkan terang. Siapa menanam akan memanen. Itu jika beruntung tak dipanen tengkulak. Aku termasuk yang beruntung.

—

DI PUNCAK gunung salju tadi malam telah kutanam dongeng dan buaian. Perawan Tingting Bakul Kedai terlelap pulas pada pangkuanku. Siang ini bocah ajaib itu begitu riangnya berkat terbaring cukup. Bermain-mainlah dia dengan kupu2 salju.

Masih betul cepat larinya. Sayang, bocah rambut tebal bermata bulat ini tidak pernah dapat mengejar kupu-kupu itu, selalu ketinggalan sekian jengkal yang makin lama makin berdepa-depa. Kupu-kupu melesat ke kiri, Tingting melaju ke kiri. Kupu-kupu serong kanan, bocah tujuh tahunan itu miring kanan pula walau kupu-kupu telah kembali berkepakan serong kiri.

Sekarang pergi ke aliran. Datang seorang bocah, hap. Awut-awutan tak tertangkap. Si sayap ungu sudah undur dadakan ke dapur.

Jangan-jangan ia bukan kupu-kupu biasa. Ia senantiasa tak terkejar, tak tergapai, dan tidak lain kecuali mempercepat kepakan bagian ungunya untuk menyatakan bahwa dirinya memang tak terjangkau. Jangan-jangan ia induk Tingting, Pendekar Langlang Jagad, induk yang merantau namun kangen bukan kepalang, induk yang pulang sementara namun menyamar sebagai pensiunan kepompong.

Kubiarkan purnawirawan itu dan seorang tokoh calon penangkapnya berkitar-kitar di sekelilingku yang terbaring di tumpukan salju.

”Bila ia telah jadi mengejar kupu-kupu, berarti telah berhasil pula kupu-kupu itu menangkapnya. ”

Tetiba muncul pada benakku ungkapan tersebut, yang kali pertama kudengar dulu waktu pengembaraanku kandas di Dusun Nawaci.

*

Tanda dusun di celah dua bukit kembar itu sebenarnya Nawacita. Buluh kuning dan kelapa gading menjelma ciri khas panoramanya. Seluruh ikatan dan lambaian kedua flora tersebut sangat mewarnai, sangat bercorak-corak juga keadaan hati ini setiap mengingat dari puncak anak-anak gunung sekitar Nawacita.

Oleh bocah-bocah seusia Tingting kemudian Nawacita dipendekkan jadi Cita. Mereka pelesetkan teristimewa menjadi Cita Citata. Para pinisepuh turun tangan. Mereka bersepakat mengubah nama dusun berpenduduk 40-an tim itu dari Nawacita ke Nawaci. Ini untuk menghindarkan pelesetan bertambah lanjut dari kalangan bocah ke kalangan milenial. Tapi, namanya serupa kehidupan. Nama Nawaci pun sesungguhnya masih rentan dipelesetkan oleh orang-orang yang kreatif.

Ke manakah perginya bocah-bocah dan milenial yang biasanya selalu kreatif dan usil dan memilih diam masa kreativitas dan keusilan itu diperlukan?

Mereka belum pergi. Mereka hanya masih terkesima sebab anehnya ilmu titen, semacam matematika tatkala itu, yakni sebelum Candi Borobudur ada dan Gunung Merapi kelihatannya juga belum eksis. Tiga ekor sapi Dusun Nawaci, ditambah tiga ekor sapi yang diimpor dari dusun lain ke Nawaci, jumlahnya tidak menjadi enam buntut sapi, melainkan cuma empat punggung sapi. Lho, yang dua punggung sapi ke mana? Raib untuk jatah preman!

Tidak berarti kalau sapi-sapi tambahan tidak diimpor tapi diadakan dari kawasan sendiri, maka matematika sudah reda. Total tiga ekor sapi Kawasan Nawaci beranak masing-masing seekor lembu, bukan berarti jumlah total sapi dusun itu kini menjadi enam ekor sapi. Bisa saja jadi nol sapi malah! Kok bisa? Preman-preman akan meriang dan membumihanguskan segalanya!

Kabar baiknya, satu diantara preman importer sapi Desa Nawaci bertobat. Lembu Anuhoni namanya. Jika dulu Lembu senyumnya bengis, senyumnya yang sekarang betul-betul mesam-mesem yang ramah. Matanya bercahaya. Tersebut wajah penuh tawa tak jemawa sejuk hawa. Segala kebekuannya mencair. Segala tutur katanya semilir. Segala bantuannya mengalir.

Aku tak ingin mengatakan bahwa selera seninya tinggi. Tapi, kalau bertepatan tak ada tamu, Lembu memakai waktu luangnya untuk merangkai sama dengan tembang macapat. Malam itu digubahnya semacam macapat Gambuh:

Sitik-sitik kok nesu

Okeh-okeh kok yo nesu

Kadang-kadang ora akeh ora sitik

Panggah wae tetep nesu

Nanging aku tetap rindu

(Dikit-dikit kok ngamuk

Banyak-banyak juga ngamuk

Kadang-kadang tidak banyak tak kecil

Tetap saja awak ngamuk

Tapi saya tetap rindu)

*

Preman impor lembu dan buah-buahan antardusun yang telah bertobat itu mati suri dalam Jumat Kliwon ke-17 terhitung sejak pengembaraanku kandas di Dusun Nawaci. Kisah yang diceritakan orang di pasar-pasar, cerita yang dikisahkan di pematang-pematang sawah, adalah tentang tewas surinya. Bangun sepekanan kemudian, Sapi Anuhoni yang baru mati suri itu balik lagi ke tabiatnya dahulu semasih aktif menjadi preman. Ngamuk sana. Ngamuk sini. Dan ia selalu berteriak-teriak.

Teriaknya kepadaku, ”Hampir saja ego berhasil mengejar kupu-kupu itu, & kupu-kupu itu hampir saja berhasil menangkapku. Bukankah itu pertanda kematian bakal menjemputku? Bukankah itu baik daripada kembali hidup tapi tumbuh suri begini? Kenapa kaubangunkan saya, Pendekar Sastrajendra!!!???? ”

Lembu Anuhoni mencabut pedangnya & menantangku. Ia lantunkan macapat Gambuh dengan pedang terhununs dan melarang kuterjemahkan:

Koyo to luru klungsu

Gogrok asem tan linuru

Tak luruhe isuk sore rino wengi

Ibarate ngono iku

Nggonku ngluru katresnanmu

—

SUJIWO TEJO, tinggal pada Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers