Kadisperindag Sidoarjo Minta Pedagang yang Dites Tak Berjualan 14 Hari

Kadisperindag Sidoarjo Minta Pedagang yang Dites Tak Berjualan 14 Hari

JawaPos. com – Mulai pukul 09. 00, Sabtu (2/5), petugas dari Dinkes Sidoarjo dan Puskesmas Krian melaksanakan rapid test di Pasar Krian. Sasarannya pedagang terdekat dari los milik pasangan suami istri dengan positif terpapar Covid-19.

Sebanyak 53 pedagang ikut rapid test. Padahal, sasarannya 70 karakter. Yakni, para pedagang yang sebelumnya pernah kontak. Namun, sebagian orang sudah pulang. ’’Karena hanya dagang di pasar saat dini hari, pagi sudah pulang, ’’ prawacana Rini Mardiana, salah seorang aparat rapid test dari Puskesmas Krian.

Selain melakukan tes cepat, mereka mewawancarai para penjual. Itu terkait kontak dengan anak obat serta keluhan sakit. Para penyalur kompak menjawab sehat semua. Tak ada gejala. ’’Insya Allah tak ada yang positif, negatif semua, ’’ ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Sidoarjo dr Atho’illah.

Buatan tersebut akan dibahas lebih sendat oleh satgas gugus tugas Covid-19. Apakah butuh ditambah rapid atau tidak? ’’Bila membutuhkan perluasan, mau kami lakukan. Yang di Gresik sudah di-handle Dinkes Gresik, ’’ lanjut Atho’. Sebab, pedagang yang positif merupakan warga Kota Giri.

Kepala Disperindag M. Tjarda menambahkan, hari ini (3/5) pihaknya akan melakukan sosialisasi pada pedagang di blok timur. Meraka diminta tutup sementara selama 14 hari. Penutupan mulai besok (4/5). ’’Meskipun hasilnya negatif, tetap mengantisipasi persebaran virus Covid-19 di Pasar Krian, ’’ katanya.

Tjarda menyatakan, Pasar Krian tak tutup secara keseluruhan. Hanya pedagang berjarak 50 meter dari letak dagang penjual yang positif yang diminta tidak berjualan dulu. Terekam ada 40 stan.

Dia juga meminta para pedagang lain dan pembeli taat patokan. Prosedur pencegahan Covid-19 harus betul-betul dipatuhi. ’’Mereka wajib pakai kedok. Kalua tidak pakai, harus pulang, tidak boleh masuk, ’’ bahana Tjarda.

Jika mereka tetap ngeyel, pihaknya mengancam untuk menutup lapak pedagang. ’’Dalam PSBB ini, aturan di pasar sudah jelas. Jam operasional dibatasi, SOP pencegahan Covid-19 diperketat. Kalau menyalahi, ada sanksinya, ’’ ujarnya.

Sementara itu, jumlah karakter yang meninggal mendadak terus bertambah. Kemarin dua penderita penyakit parah tutup usia. Yakni, di Sukodono dan Jabon. Di Desa Pekarungan, Sukodono, Jumat malam (1/5) Edi Waluyo meninggal mendadak. Dari keterangan yang dihimpun, sejak siang Edi tak enak badan. Namun, pria 54 tahun itu enggan berobat ke dokter. Pukul 16. 00, sakit Edi bertambah parah. Dia sulit bernapas. Keluarga panik. Sejurus kemudian menghubungi ambulans.

Warga Perumahan Graha Asri Sukodono itu sempat tak sadarkan diri. Minimnya pasokan oksigen di pada tubuh membuatnya pingsan. Beberapa menit kemudian, ambulans tiba. Sayang, Edi sudah berpulang.

Petugas kesehatan tiba dengan memakai APD di lokasi. Kapolsek Sukodono Iptu Warji’in Krise menuturkan, korban memiliki riwayat penyakit kronis. Yaitu, diabetes. ’’Sempat terkena stroke, ’’ jelasnya.

Pada kejadian lain, di Masjid Bhaitus Sholihin, Tempat Kedungcangkring, Jabon, Agus Hasal tidak bisa beristirahat. Kala itu pukul 02. 00. Dia mengeluh dadanya sakit. Korban mengalami sesak napas.

Siti Lailatin, orang Agus, memberikan pertolongan. Membuatkan minuman hangat. Nah, saat memanaskan minuman dan meracik minuman, Siti Lailatin mendengar suaminya mengerang kesakitan. Dia seketika berlari. Agus mengembuskan bernapas terakhir.

Kapolsek Jabon AKP Sumono menuturkan, sejak 23 April, korban bersama keluarga susunan di masjid. Sebab, dia tak bisa membayar kontrakan rumah. ’’Sebelumnya kontrak di Desa Tempel, Gempol, Pasuruan, ’’ ucapnya. Takmir langgar memberikan izin sementara tinggal bergabung istri dan empat anaknya.

Saksikan video memikat berikut ini: