Kalau Dipakai Tepat, Penelitian Buktikan Masker Medis Ampuh Cegah Covid

Kalau Dipakai Tepat, Penelitian Buktikan Masker Medis Ampuh Cegah Covid

JawaPos. com –Meski sudah vaksinasi Covid-19, lestari wajib pakai masker. Mengapa? Sebab vaksin tidak mampu menjamin kekebalan seratus upah. Kuncinya juga bukan pokok memakai masker. Tapi dengan jalan apa memilih masker yang tepat.

Penelitian terbaru di Bangladesh membuktikan pengampu emas penggunaan masker medis.   ”Hasil dari studi besar-besaran di Bangladesh secara tegas menunjukkan bahwa masker bedah mengurangi penyebaran SARS-CoV-2 , ” kata para ilmuwan laksana dilansir dari Science Alert , Kamis (2/9).

Hasilnya, dari jenis uji klinis standar emas berkualitas tinggi, masker efektif dalam menyerbu penyebaran Covid-19. Penelitian tersebut penting bagi mereka yang masih anti masker.

”Ini adalah menuntut yang sangat menantang tetapi penting untuk dilakukan, ” kata seorang dokter pengobatan darurat dan seorang guru besar di Brown University Megan Ranney,   yang bukan bagian dari penelitian tersebut, mengatakan kepada Washington Post .

”Orang-orang anti masker terus berkata, di mana uji jika terkontrol secara acak ? Nah, ini dia buktinya, ” kata Megan Ranney.

Selama kepala setengah tahun terakhir, para ilmuwan mengatakan bahwa masker mengurangi penyebaran virus. Tetapi sangat sulit untuk mempertimbangkan seberapa besar masker membantu mengekang penularan di dunia nyata, di mana tidak semua orang menggunakan kedok. Masyarakat diminta menggunakan kedok dengan kualitas yang sepadan dan memakai masker dengan benar.

Di studi baru, para peneliti dari Bangladesh dan AS menguji efektivitas penggunaan masker di 600 desa di Bangladesh. Penelitian, yang membabitkan lebih dari 342 ribu orang dewasa, adalah uji coba acak terbesar yang pernah dilakukan pada penerapan masker, menurut Washington Post .

Studi itu diposting sebagai pracetak ke situs web nirlaba Innovations for Poverty Action pada satu September saat sedang ditinjau untuk publikasi di jurnal Science , menurut Post . Penelitian  berlangsung sejak November 2020 hingga April 2021, sekitar 178 ribu orang menerima intervensi kedok dan sekitar 164 seperseribu orang tidak.

Setiap orang dalam klan intervensi menerima masker gratis, diberikan banyak informasi mengenai pentingnya memakai masker, memiliki tokoh masyarakat sebagai panutan, dan menerima pengingat langsung selama delapan minggu, taat penelitian tersebut.   Para-para peneliti kemudian menempatkan penyelidik di seluruh komunitas dengan melacak, setiap minggu, berapa banyak orang yang mengenakan masker dengan benar, dan secara fisik menjaga jarak dalam masjid, pasar, dan ulama masuk utama ke desa-desa dan kedai teh.

Sekitar 5–9 minggu setelah uji coba dimulai, para peneliti menyurvei peserta yang mengalami gejala mirip Covid-19. Kemudian, sekitar 10 hingga 12 minggu setelah uji coba dimulai, mereka mengambil sampel darah dari peserta yang bergejala & mengujinya untuk antibodi SARS-CoV-2 .

Hasilnya, kelompok intervensi masker tiga kali ganda efektif dari 13, 3 persen pada pengamatan klan kontrol menjadi 42, 3 persen. Peneliti juga menemukan bahwa jarak fisik efektif sekitar 24, 1 obat jerih pada pengamatan kelompok pengaruh dibandingkan dengan 29, dua persen pada kelompok non intervensi.

Sayangnya, lima bulan setelah tes coba, dampak intervensi menggabak. Orang makin sedikit memakai masker dengan benar.

Pada kelompok intervensi (pakai masker), hanya 7, 62 persen orang mempunyai gejala mirip Covid-19. Para-para peneliti mengumpulkan sampel pembawaan dari hampir 11 ribu peserta, dan menemukan bahwa intervensi masker tersebut menekan infeksi gejala Covid-19 sebesar 9, 3 persen.

”Hasil kami tidak boleh dianggap menyiratkan kalau masker hanya dapat mencegah 10 persen kasus Covid-19, apalagi 10 persen janji Covid-19, ” tulis para-para penulis dalam makalah itu.

Kedok Medis Efektif

Desa diberikan masker kain atau masker bedah. Di desa-desa yang diberi masker bedah, infeksi bergejala berkurang 11, 2 komisi dibandingkan dengan kelompok dominasi.

Persentase itu bahkan lebih tinggi pada orang dewasa yang bertambah tua. Pada mereka dengan berusia 60 tahun atau lebih dan yang diberi masker bedah gratis beserta dengan intervensi lain, infeksi gejala berkurang 34, tujuh persen dibandingkan dengan gerombolan kontrol.

Sedangkan masker kain kurang efektif mengurangi gejala infeksi dipadankan dengan kelompok kontrol.   Penelitian itu adalah salah satu dari banyak studi yang menunjukkan manfaat sejak penggunaan masker, namun memiliki beberapa keterbatasan.

Penelitian itu juga tak dapat menjelaskan apakah masker membuat gejala menjadi bertambah ringan dengan mengurangi viral load orang yang terpapar, atau apakah masker mengurangi infeksi kasus baru.