Kopiah, Becak, dan Kado Istimewa Hari Museum Nasional

Kopiah, Becak, dan Kado Istimewa Hari Museum Nasional

PASCA mengikuti pernyataan sikap para akademisi & pegiat sosial terkait pengesahan UNDANG-UNDANG Cipta Kerja pekan lalu, hamba bertemu dengan pembimbing akademik pada sebuah makan malam. Ia bertanya, selain berita-berita bernada negatif di media internasional, adakah berita tentu terkait Indonesia belakangan ini?

Sambil mengunyah kudapan yang disediakan olehnya, saya berpikir tulang untuk menjawab pertanyaan tersebut. Datang kemudian saya ingat bahwa kamar ini terdapat rilis media sebab sebuah komisi yang menyatakan kalau pemerintah Belanda berkewajiban mengembalikan bahan warisan budaya yang dijarah daripada bekas koloninya.

Di masa penjajahan, terdapat banyak sekali objek warisan budaya yang dibawa ke Belanda tanpa persetujuan pemiliknya. Atau bahkan bertentangan dengan keinginan dari si empunya.

Berbagai macam jalan benda-benda tersebut sampai ke negeri ini. Mulai mengambilnya langsung dari situs tempatnya berasal karena dianggap tidak sedang difungsikan sebagaimana mestinya. Maupun sebagai jarahan atau rampasan perang masa rezim Belanda berupaya memperluas teritorinya.

Situasi ini berlaku tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai wilayah kekuasaan Belanda lain seperti Suriname & Kepulauan Karibia. Isu kepemilikan bahan warisan budaya ke negeri asalnya rupanya telah menjadi perhatian luhur di negara-negara Eropa.

Pada akhir 2017, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memulai inisiasi di bidang tersebut dengan membuat suatu komisi yang bertugas untuk membuat rekomendasi kebijakan bagi pemerintahnya.

Tak lama setelahnya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda membentuk komisi sebangun hingga menghasilkan rekomendasi seperti yang telah disebutkan di atas.

Dengan tambahan bahwa perspektif dan kehendak negara tempat benda-benda warisan budaya tersebut berasal juga harus diperhatikan. Maka, tentu rekomendasi dari komisi itu adalah berita yang positif bagi Indonesia.

Kabar baik dari Belanda tersebut tentu saja patut disambut dengan gembira oleh Indonesia. Bahkan boleh dibilang rekomendasi komisi tersebut seolah menjadi kado istimewa untuk peringatan Hari Museum Nasional yang dilaksanakan setiap 12 Oktober.

Hanya, perlu diperhatikan juga bahwa masih banyak tantangan tumbuh yang harus dihadapi Indonesia pra bisa menindaklanjuti inisiatif dari pihak Belanda.

Tantangan sempurna selain masalah teknis permuseuman dengan masih mengganjal adalah persoalan dekolonisasi Indonesia, khususnya di bidang kultur. Mungkin bagi sebagian besar lantaran kita menganggap bahwa kemerdekaan kita yang diproklamasikan 75 tahun dengan lalu telah membebaskan kita daripada belenggu penjajahan.

Padahal, yang perlu diingat, kemerdekaan dengan politik suatu bangsa tidaklah otomatis melepaskannya dari nilai-nilai kolonialis dengan masih bercokol. Seperti yang tampak dalam berbagai bidang, mulai politik, ekonomi, hingga budaya (Ashcroft, Griffiths, dan Tiffin, 1998).

Kondisi ekonomi politik negeri kita dewasa ini tidaklah terlalu jauh dari penggambaran tersebut. Pun serupa itu dalam bidang kebudayaan, khususnya dalam hal permuseuman.

Bagaimana tidak, ekshibisi atau pameran pati dalam sebagian besar museum pada Indonesia masih tidak jauh bertentangan dengan model museum sebagai wunderkammer atau cabinet of curiosities yang bermula dari Eropa pada pertengahan abad ke-16.

Museum sebagai wunderkammer adalah tempat penyimpanan bagi segala macam benda dengan dianggap menakjubkan dan eksotis. Bermacam-macam barang koleksi ditampilkan hanya buat memukau siapa pun yang melihatnya.

Anggapan semacam itu tentu bisa dianggap telah ketinggalan zaman mengingat berbagai perkembangan terpaut permuseuman di Indonesia telah pesat. Hanya, apabila kita pernah melihat dan mengamati dengan saksama, ragam pikir arus utama di Indonesia mengenai museum tidak jauh-jauh dari anggapan tersebut.

Telah bukan rahasia lagi bahwa penuh museum di Indonesia seolah-olah fungsinya hanya berhenti sebagai gudang penyimpanan belaka. Pada beberapa kasus bahkan lebih parah lagi di mana sang pengelola justru menempatkan sumber daya manusia yang bukan di tempatnya untuk tugas-tugas krusial dalam museum.

Bagaimana kira-kira kita bisa aktif melakukan penelitian terhadap objek warisan budaya dengan ada di museum apabila negeri tidak memberikan kemudahan-kemudahan bagi itu yang hendak meneliti soal ini. Banyak kesulitan seperti akses yang masih terbatas dan tidak gratis terhadap dokumen-dokumen terkait suatu objek yang tersimpan di kantor arsip milik pemerintah.

Tentu persoalan-persoalan seperti ini tidak saya kemukakan ke profesor saya sebab yang ditanyakannya adalah kabar molek tentang Indonesia. Begitu pun secara tulisan ini ingin saya akhiri dengan optimisme seperti jawaban hamba kepadanya.

Terdapat kira-kira inisiatif kebudayaan akhir-akhir ini dengan mulai ditunjukkan pemerintah baik sentral maupun daerah. Strategi Kebudayaan yang dicanangkan akhir 2018 merupakan capaian yang luar biasa di mana persoalan warisan budaya juga terangkum di dalamnya. Beberapa museum dengan dikelola pemerintah daerah juga sudah melakukan banyak terobosan.

MERIAM SEBAB ACEH: Meriam yang diambil prajurit KNIL saat menaklukkan Aceh. Meriam tersebut pemberian dari sultan Turki kepada Sultan Aceh pada abad ke-16. Kini tersimpan di Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda. (ADRIAN BAHADUR FOR JAWA POS)

Salah satunya Museum Kambang Putih, Tuban, yang akan menerapkan pameran temporer tentang becak. Tema yang diangkat ini telah sanggup menerobos imajinasi museum yang terbentuk pada masa kolonial.

Semangat pameran tersebut selaras dengan Bung Karno yang melihat kalau peci yang identik dengan penutup kepala milik tukang becak pada masanya sebagai upaya untuk membayangkan perjuangan nasionalisme Indonesia bukanlah hak kelompok elite saja. Melainkan segenap warga Indonesia.

Belum lagi berbagai kegiatan seperti yang dipelopori oleh kalangan diaspora & mahasiswa Indonesia di Belanda. Bersama dengan PCI Nahdlatul Ulama Belanda, secara berkala telah merintis jalan dialog intensif antara museum Belanda dan Indonesia sejak tahun itu.

Sekali lagi, semoga rekomendasi tadi bisa menjadi paksa bagi Indonesia, khususnya untuk memberikan kontribusi besar bagi kebudayaan. Tak hanya untuk negerinya, tetapi serupa kepada dunia. (*)


*) ADRIAN BERANI

Dosen Pengetahuan Sejarah Universitas Airlangga, Ketua Komite Kebudayaan Perhimpunan Pelajar Indonesia Sedunia, dan PhD Candidate di Universiteit Leiden, Belanda.

Saksikan video menarik berikut ini: