Lakon KPK dan Perjuangan Pegawainya di Memberantas Korupsi

Lakon KPK dan Perjuangan Pegawainya di Memberantas Korupsi

Kumpulan surat-surat elektronik (e-mail) selama lima patos tahun terakhir yang ditulis menjelma buku ini, seperti mewakili perkataan hati pegawai KPK yang sedang berjuang dan tak putus dirundung nestapa melawan kekuatan besar sambutan balik koruptor dan sekutunya. Banyak potret buram yang kerap dijadikan refleksi untuk memompa semangat para pejuang – pejuang antikorupsi di lingkungan internal lembaga antirasuah, agar terus semangat membersihkan negeri tersebut dari bahaya laten korupsi.

MEMBACA buku ‘The E-MAIL Mengeja Karut Merangkai Asa’ yang ditulis pegawai senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nanang Farid Syam, seperti membaca pelajaran buku Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (kini sejarah), yang disajikan sebagai salah satu mata kajian siswa SD di era Orde Baru. Bedanya, dalam buku ini pembaca akan disajikan tentang cerita KPK beserta problematikanya, dari sudut pandang seorang pegawai yang cakap dalam membidangi jaringan ini.

Banyak kisah-kisah ketimpangan sosial yang berhasil dipotret penulis untuk dijadikan cerminan dan memompa spirit juang kawan-kawan seperjuangannya, agar tidak kendur dalam melakukan kerja-kerja pemberantasan korupsi.

Seperti kisah ‘Bumi dan Cucu Kakek’. Sungguh jelinya penulis memanfaatkan ruang atau momen acara pegawai KPK pada car free day (CFD), era mengadukan nasibnya ke sang Pemimpin, usai DPR berhasil mengamputasi lembaganya melalui revisi undang-undang.

Dalam potretnya, penulis mencoba membina analogi bernada satire, antara nasib si kecil Bumi yang menimbrung berpanas-panasan mengikuti acara aksi nyaman perjuangan ayahnya bersama teman-teman kantornya membagikan bunga kepada warga Jakarta, dengan kehidupan mapan Cucu sang Kakek yang akhir pekannya diisi bermain di halaman istana yang indah dan megah. Bumi penulis analogikan sebagai simbol perjuangan tingkatan penerus bangsa yang siap menyongsongkan masa depan. Sementara Cucu si kakek sebagai simbol kemapanan, dengan seolah tak peka dengan kehidupan rakyat jelata, hanya memikirkan kebahagian dirinya saja.

Menggunakan Bumi dan Cucu sang aki, penulis ingin mencoba mengetuk kesempatan pemimpin negeri ini, dan memberi pesan bahwa korupsi di Nusantara masih merajalela yang dampaknya mampu sampai menggerogoti sampai ke Dunia dan Cucu sang Kakek. Sehingga sang pemimpin tak boleh setengah hati mendukung upaya pemberantasan manipulasi, hanya sebatas beretorika tanpa tersedia tindakan yang nyata.

Kisah ‘Sukardal’ dalam buku itu juga tak kalah menarik buat dibaca. Dalam tulisannya, penulis mencoba mereflesikan simbol perlawanan dari Sukardal. Seorang tukang becak yang memilih gantung diri di sebuah kesempatan rumah, usai becaknya disita petugas. Meskipun memilih mengakhiri hidupnya dengan tragis, namun sebelumnya, simbol balasan ‘orang kecil’ ini telah melawan aparat yang bertindak semena-mena, secara cara menulis sebuah pesan bernada protes di dinding tembok. ‘Saya gantung diri karena becak beta dibawa anjing Tribum’.

Sebagai bagian dari ‘orang kecil’ pemilik negeri ini, penulis ingin mengajak dirinya dan teman-temannya pada KPK, berjuang sekuat tenaga bagaikan Sukardal melawan kekuatan oligarki, dengan kerap menyengsarakan rakyatnya melalui bervariasi tindakan yang korup.

Sepertihalnya Sukardal yang telah melawan sekuat tenaga aparat yang mengambil harta bendanya yang istimewa, walaupun akhirnya kalah dan memilih bunuh diri. Penulis ingin para pegawai lembaga antirasuah tak cengeng, masa menghadapi berbagai serangan yang murni datang bertubi-tubi ingin membunuh KPK secara perlahan-lahan.

Tidak hanya soal kisah ketimpangan sosial, kisah heroik juga ikut ditulis penulis dalam buku ini. Yang tak kalah penting, penulis selalu menulis tentang kritikannya terhadap bagian pengawas internal lembaganya yang seolah tajam ke bawah tumpul ke atas. Hal ini penulis paparkan dalam kisah ‘Persoalan Etik, Kepalang Jawab Siapa? ’. Penulis mau persoalan etik di lingkungan personel lembaga antirasuah ditegakkan secara setimbal. Tidak hanya tegas kepada pegawai rendahan, seperti kisah petugas ketenteraman yang langsung dipecat karena terlihat menerima ‘duit receh’ dari seorang kolega tersangka korupsi.

Menurut penulis banyak pelanggaran etika yang dilakukan oknum internal pegawai KPK yang mempunyai jabatan mulia dan vital, namun tak terang juntrungnya penanganannya. Terkadang, para perseorangan pegawai itu hanya dikembalikan ke instasi asalnya ketika sudah melakukan kesalahan yang fatal dan berbau pidana. Atau sering kali menjadi cerita pepesan kosong yang kerap tercium awak media, namun tak bisa mengemuka. Oleh karena tersebut, dalam kritikannya, penulis meminta supaya pihak pengawas internal transparan menggelar kasus pelanggaran etika apa sekadar yang tengah ditanganinya. Hal ini sebagai bentuk pertanggungjawaban ke publik, serta sebagai pembelajaran bagi pribadi KPK agar tak mengulangi kelengahan yang sama.

Masih banyak kisah-kisah menarik lain yang belum tertulis dalam buku ini. Namun sayangnya, karena keterbatasan total halaman, maka penulis hanya bisa mengabadikan sedikit surat-surat elektronik di milis pegawai KPK ini buat dibukukan, agar menjadi bahan perenungan.

Membaca buku tersebut seperti menemukan oase di sedang gurun. Bagi siapapun pegawai institusi antirasuah, pegiat antikorupsi dan orang-orang yang peduli terhadap pemberantasan manipulasi di negeri ini, jika membaca buku ini maka akan seolah-olah dicubit penulis agar sadar dan bangun dari mimpi indahnya. Lalu berani menghadapi kenyataan pahit bahwa koruptor tak tinggal diam serta akan menggerakan jaring-jaring penyelenggara negeri untuk membalaskan dendam kesumatnya.

Judul     : THE E-MAIL: Mengeja Gelisah Merangkai Duga
Penulis   : Nanang Farid Syam
Penerbit: Binsar Hiras
Edisi.      : Pertama, November 2020
Tebal.      : 203 kaca
ISBN.      : 978-623-6679-22-7