Melaksanakan Pohon Natal Setinggi 4, 5 Meter yang Ramah Lingkungan

Melaksanakan Pohon Natal Setinggi 4, 5 Meter yang Ramah Lingkungan

Penampakan pohon cemara yang menjulang terlihat di ruang tamu Tempat Asuhan Yayasan Don Bosch. Sekilas terlihat seperti tanaman plastik secara bentuk pohon Natal. Tapi, cobalah amati pohon tersebut dari depan. Ternyata, tanaman sirih gading dengan disusun rapi. Dibutuhkan ketelatenan.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

TINGGI   pohon Natal tersebut mencapai 4, 5 meter. Proses pembuatannya menjadi tantangan tersisih. Apalagi, pembuatnya harus memastikan kalau sirih gading tersebut tetap bisa tumbuh alami. ”Butuh seminggu pembuatannya, ” kata Serikat Suster Puteri Kasih, Yayasan Don Bosch, Sr. Anna Wiwiek Soepraptiwi kemarin siang (21/12).

Saat siang, susunan sirih gading tersebut menyampaikan kesan segar. Juga ramah lingkungan. Sebab, benar-benar memanfaatkan tanaman tumbuh. Anna menuturkan bahwa untuk menyusun pohon Natal tersebut setidaknya membutuhkan 300 tanaman sirih gading. Ratusan tanaman itu tidak ditempelkan. Namun, tumbuh di dalam pot plastik air mineral.

Cara menyusunnya yang rapi dan necis membuatnya seperti satu pohon gembung.

Sulur-sulur di tanaman sirih gading juga dibiarkan tergerai. Untuk itu, kesan alami begitu kuat.

Pembuatan pokok kayu Natal tersebut hanya dilakukan seminggu. Meski demikian, persiapannya sangat lama. Yaitu, dimulai dari tahun kemarin. Ratusan tanaman tersebut ditanam oleh anak-anak panti. Hanya, perangkaiannya dikerjakan para karyawan dan beberapa anak panti.

Proses perangkaian berlangsung di bengkel kreativitas. Lokasinya tidak jauh dari ruang tamu panti. Menurut Anna, tidak tersedia kendala berarti dalam pembuatannya. Cuma dibutuhkan ketelatenan. Bagaimana caranya biar tanaman tetap bisa tumbuh. Apalagi sampai awal Januari besok.

Pohon Natal tersebut mengusung tema ecogreen. Semua bahannya diperoleh di lingkungan sekitar. Misalnya, pot tempat tumbuh sirih gading adalah bekas botol air minum. Tatkala itu, tanamannya didapat dari sekolah. ”Di sini ada sekitar 500 tanaman sirih gading. Semuanya ditanam oleh anak-anak, ”terang Anna.

Selain mengusung tema dunia, pembuatan pohon Natal dari sirih gading itu memiliki nilai filosofis. Yaitu, untuk ketenteraman, keharmonisan, serta ketenangan. Khususnya bagi yang melihatnya.

Tahun ini rancangan Natal di Yayasan Don Bosch memang berbeda. Tidak ada perayaan seperti sebelumnya. Anak-anak pun kembali ke rumah masing-masing. Maklum, pandemi Covid-19 membuat anak-anak kangen dalam keluarganya. Sebab, tidak ada rancangan jenguk. ”Saking kangennya, mereka sampai demam dan mengigau, ” sirih Anna.

Menangkap Juga: Aturan Hangat Rapid Antigen Bikin Penumpang dalam Bandara Juanda Bingung

Karena itu, lanjut dia, kemarin anak-anak yang memiliki keluarga dipersilakan pulang. Sementara itu, yang tak punya keluarga tetap tinggal di panti asuhan. Ada doa yang terselip dari pohon Natal tersebut. Yaitu, tentang keharmonisan ketenteraman bergabung.

Tak hanya membuat pohon Natal dari sirih gading. Anak-anak juga menghasilkan karya snow man dari daur ulang styrofoam. Sekilas mirip salju. Uniknya, periode matanya dibuat dari tutup botol plastik. Topinya berasal dari beledi yang dimodifikasi.

Nah, setelah perayaan Natal berakhir, ratusan tanaman itu akan dikembalikan. Yaitu, ditempatkan di teras yayasan. ”Kami mengusung ecogreen agar anak-anak bisa menghargai semua yang ada pada sekitarnya. Termasuk sampah plastik, ” terang Anna yang juga biarawati pamong Panti Asuhan Don Bosch.  

Saksikan video menarik beserta ini: