Membuat Keramaian saat Semi Lockdown, 12 WNA di Singapura Dideportasi

Membuat Keramaian saat Semi Lockdown, 12 WNA di Singapura Dideportasi

JawaPos. com – Sebanyak 12 warga negeri asing dideportasi dan dilarang merembes kembali ke Singapura. Mereka tidak mematuhi tindakan menjaga jarak dengan aman selama kebijakan semi lockdown atau pemutus sirkuit (circuit Breaker) untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. diberlakukan. Mereka justru melaksanakan kerumunan dan keramaian dengan mengundang teman-teman untuk pesta dan minum-minum selama pembatasan.

“Mereka adalah seorang warga negara Malaysia, warga negara Tiongkok, dan 10 warga negara India yang dinyatakan bersalah karena tidak patuh, ” kata Polisi dan Otoritas Imigrasi dan Pos Pemeriksaan (ICA), Senin (13/7).

Dilansir dari AsiaOne, Senin (13/7), 12 WNA itu terdiri dari sembilan pria dan 3 perempuan yang berusia antara 20 dan 37 tahun.   Semua telah melanggar kebijakan semi lockdown di Singapura terpaut penanganan Covid-19.

Urusan pertama melibatkan WNA asal Malaysia, Arvinish N. Ramakrishnan, 23, yang merupakan pemegang izin kerja. Tempat mengundang temannya ke tempat tinggalnya untuk minum dan kemudian mengantar temannya pulang dengan sepeda mesin. Mereka kemudian dihentikan di tiang Yishun Avenue 6.

Arvinish didakwa mengendarai sambil gila dan melanggar larangan meninggalkan tempat tinggalnya. Selain itu dinyatakan mengabaikan karena membuat pertemuan sosial.

Dia didenda SGD 4 ribu atau Rp 40 juta.   Dia dideportasi ke Malaysia pada 5 Juni dan dilarang masuk kembali ke Singapura.   Teman Arvinish, juga seorang Malaysia, ditegur dengan peringatan keras dan pemberitahuan karena melanggar pembatasan mencuaikan tempat tinggalnya.

Dalam kasus kedua, perempuan warga negara Tiongkok, Cheng Fengzhao, 37, didenda SGD 7 ribu atau Rp 70 juta. Izin kerjanya selalu dicabut dan dia dideportasi ke Tiongkok pada 10 Juni.

Dia bersalah karena meluluskan seorang pria Singapura yang bukan penduduk untuk memasuki unit kondominiumnya di 30 Jalan Kemaman buat memberikan layanan pijat dan seksual dengan imbalan SGD 100 atau Rp 1 juta.   Adam itu juga didenda karena menentang larangan pertemuan sosial.

Secara terpisah, 10 warga negeri India didenda antara SGD 2 ribu hingga SGD 4 ribu. Izin  sekolah atau izin kerja mereka dibatalkan setelah dinyatakan bersalah.   Antara Juni dan Juli mereka dideportasi ke India dan dilarang masuk kembali ke Singapura. Mereka menghadiri pertemuan sosial di unit perumahan di Kim Keat Road. Mereka  dituduh mengizinkan orang lain untuk memasuki tempat letak mereka tanpa alasan yang lulus.   Tujuh pengunjung, berusia kurun 20 dan 33 tahun, telah melanggar larangan pertemuan sosial.

Polisi mengingatkan kepada umum Singapura bahwa pihak berwenang tak akan ragu untuk mengambil kesibukan tegas terhadap siapa pun yang tidak mematuhi aturan menjaga senggang yang aman atau abai kepada hukum Singapura.   Tindakan itu dapat mencakup pencabutan visa ataupun izin kerja.