Menteri BUMN era Soeharto Dukung Metode Erick Lakukan Restrukturisasi

Menteri BUMN era Soeharto Dukung Metode Erick Lakukan Restrukturisasi

JawaPos. com – Persoalan restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memang menjadi salah satu topik hangat di era kepemimpinan menteri Erick Thohir. Belakangan, kecendekiaan mantan ketua tim sukses Kepala Jokowi di Pilpres itu menuai banyak sorotan dari sejumlah kalangan.

Salah satunya ialah Mantan Menteri BUMN Tanri Abeng yang menilai, bahwa apa dengan dilakukan Erick Thohir dalam mengabulkan restrukturisasi sudah benar dan sepaham dengan ide-ide yang pernah dijalankannya.

“Kebijakan yang dilakukan Erick Thohir itu sesungguhnya sedang sejalan dengan pemberdayaan yang aku lakukan 22 tahun yang berserakan. Yaitu restruktusasi, profitisasi dan privatisasi. Persis yang dia lakukan, seperti itu sebenarnya jalannya, ” ujar Tanri dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos. com, Kamis (25/6).

Tanri berpendapat, jika Erick merasa kebijakannya sudah benar, maka dia harus bisa mempertanggungjawabkannya. Sebab itu, mestinya Erick tidak dapat diganggu agar fokus membenahi BUMN, tapi kalau dianggap ada yang melenceng memang perlu ada yang koreksi.

“Keputusan terahir tetap kepada Erick Thohir jadi orang yang ditunjuk langsung oleh Presiden, dia harus kokoh mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan, makanya dia harus benar. Kalau tempat salah pasti dia dikeroyok, ” ungkapnya.

Tanri serupa menambahkan, orang-orang yang kerap mengecam terkait kebijakan itu tentu sekadar orang yang tidak sependapat dengan keputusan Erick, tetapi bisa serupa disebabkan oleh kurang memahami juntrungan dan tujuan perombakan di BUMN tersebut.

Maka sejak itu, ia meminta agar Erick Thohir untuk lebih terbuka dan mengajak dialog pihak-pihak yang kurang memahami strateginya dalam upaya membereskan BUMN. Caranya dengan mengajak berembuk dengan elemen-elemen yang masih belum memahami strateginya.

“Panggi lah semua orang itu, yang kedua mungkin ada alasan-alasan lain seperti politik, kalau itu saya tidak tahu lah ya, tapi biasanya orang yang mengkritik karena dia tidak mengerti atau selalu memang yang dikritik itu dasar salah langkah atau salah memberikan informasi, ” terangnya.

Lebih lanjut Tanri menuturkan, karakter Erick Thohir untuk menciptakan value creation atau penciptaan nilai masih sama dengan kebijakannya yang dia buat pada kementerian BUMN pada tahun 1998.

“Semangatnya masih disitu dimana saya melihat transisi yang saya kembangkan dalam waktu itu 22 tahun yang lalu, untuk pemberdayaan BUMN, karena waktu kita mulai kan sejak 159 BUMN itu tidak segar, jadi harus ada restrukturisasi, nah konsep saya waktu itu merupakan restrukturisasi menuju profitisasi setelah profitisasi baru privatisasi, ” terangnya.

Ia pun mendukung kecendekiaan Erick Thohir dalam dua situasi, yaitu pertama BUMN yang menjadi problem atau yang tidak produktif memberikan kontribusi keuntungan dijual saja agar tidak menjadi beban.

“Misalnya dulu itu tersedia pabrik PT Iglas yang bekerja pembuatan kemasan gelas, ngapain BUMN ngurusin begitu, jual saja pada karyawan atau siapa, ” cakap Tanri.

Kemudian dengan paling penting menurut Tanri ialah bahwa BUMN dapat kembali kepada core atau inti bisnisnya saja, jangan melenceng mengerjakan bisnis yang lain.

“Hampir semua BUMN besar itu punya universitas, lalu dia juga punya hospiltal. Padahal hotel di holding saja didalam klaster pariwisata misalnya. Jadi persis yang ingin saya lakukan pada waktu saya membentuk kementerian core stay, jadi itu betul semua, ” pungkasnya.

Sebelumnya, Erick juga menyatakan, membuktikan bahwa proses perombakan perusahaan pelah lidah merah yang dia jalankan semenjak pertama menjabat hingga saat itu dilakukan dengan banyak perhitungan. Tempat pun mengaku tak takut kalau mendapat ancaman dari apa dengan telah diperbuatnya.

Saksikan video menarik berikut ini: