P2TP2A Kota Batu Terima 29 Aduan Kasus Dugaan Kebengisan Seksual di SPI

P2TP2A Kota Batu Terima 29 Aduan Kasus Dugaan Kebengisan Seksual di SPI

JawaPos. com –Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Bujang (P2TP2A) Kota Batu, Jawa Timur, mengaku, telah menerima 29 laporan dari para korban kasus dugaan kekejaman luar biasa di Madrasah Menengah Atas (SMA) Terlepas Pagi Indonesia (SPI).

Ketua Sekretariat Pasti P2TP2A Kota Batu Daisy Pangalila mengatakan, satu keadaan sejak dibuka  hotline   pengaduan pada Kota Batu pada 3 Juni, pihaknya telah mendapatkan pengaduan dari para objek yang diduga mengalami kebiadaban luar biasa. ”Kami hanya lengah satu  hotline  dari tiga  hotline  yang disiapkan. Saya hanya menyampaikan tentang nilai, data yang masuk 29 pengadu, ” kata Daisy seperti dilansir dari Antara di Kota Batu, Rabu (9/6).

Daisy menjelaskan, para pelapor ialah para korban dugaan kebengisan seksual, fisik, verbal, & eksploitasi ekonomi, yang diduga dilakukan salah seorang pemilik Sekolah SPI berinisial JE. Para pelapor tersebut berdomisili di berbagai daerah dalam Indonesia.

”Data-data yang diterima P2TP2A dikirimkan ke Kepolisian Resor (Polres) Kota Batu, kemudian dikirimkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur. Pelapor, ialah anak-anak di sekolah SPI dalam kurun waktu kira-kira tahun terakhir, ” ujar Daisy.

Negeri Kota Batu pada pekan lalu membuka posko dakwaan terkait dugaan kejahatan luar biasa terhadap para anak Sekolah Menengah Atas (SMA) Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Kota Batu, Jawa Timur. Posko pengaduan untuk korban kekerasan seksual tersebut, dibuka di kantor Kepolisian Resor (Polres) Kota Tekak. Posko tersebut dilengkapi secara nomor hotline pengaduan dengan bisa dihubungi para objek.

Sebelum dibuka posko pengaduan, tercatat ada sebanyak 21 orang yang melaporkan dugaan kejahatan luar biasa di sekolah SPI Kota Batu. Sebanyak 21 orang korban yang mengeluh tersebut, saat ini berstatus sebagai alumni sekolah SPI Kota Batu. Kejadian kekerasan yang dilaporkan para alumni itu, terjadi pada saat mereka masih berstatus sebagai siswa di sekolah SPI.