Pakar Dukung Kejagung Sita Aset Terpaut Kasus Jiwasraya Rp 18, 4 T

Pakar Dukung Kejagung Sita Aset Terpaut Kasus Jiwasraya Rp 18, 4 T

JawaPos. com –   Kinerja Kejaksaan Agung dalam pengusutan kasus manipulasi Jiwasraya makin menunjukan hasil yang cukup memuaskan. Lembaga hukum yang kini dipimpin oleh Jaksa Gemilang ST Burhannudin itu berhasil menyita berbagai aset terkait kasus tersebut senilai Rp 18, 4 triliun.

Pakar Hukum Kejahatan Universitas Trisakti, Yenti Garnasih mengapresiasi kinerja Jaksa Agung karena telah bekerja keras menyita aset dengan terkait Jiwasraya. Karena kasus Jiwasraya ini disebut tergolong kasus yang rumit dan tidak mudah, akan tetapi Jaksa Agung mampu menjalaninya secara baik.

“Apa dengan dilakukan (sita aset) oleh Kejaksaan Agung sudah bagus, harus diapresiasi keberanian Jaksa Agung ini. Kemudian konteksnya berkaitan dengan orang-orang dengan akan mengembalikan terkait Jiwasraya, cepet-cepat mengembalikan dengan suka rela, dan juga harus dicarikan pemikiran-pemikiran norma yang seadil-adilnya, ” ujar Yenti kepasa wartawan, Rabu, (8/7).

Dari hasil penyitaan yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung, ternyata nilainya lebih tinggi dari terkaan kerugian negara yang diungkapan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) senilai Rp 16. 8 triliun. Yenti ada hal itu disebabkan oleh keberadaan pasar modal yang fluktuatif.

“Sebetulnya kalau untuk kejahatan ekonomi itu tidak masalah sebab penghitunganya bukan dari nilai kemalangan saat kejahatan itu terjadi, tetapi menyita juga keuntungan atau bunga dari uang tersebut, ” katanya.

Dalam konteks Kaidah Pidana ekonomi, Yenti menjelaskan, menguatkan sekali untuk menyita keuntungan-keuntungan yang didapat oleh pelaku kejahatan lantaran hasil pengelolaan uang negara dengan sudah disalah gunakan. Oleh karakter menggunakan uang hasil kejahatan dari negara dihitung sejak kejahatan tersebut terjadi

“Dalam konteks hukum pidana ekonomi itu dimungkinkan sekali, ” bebernya.

Lebih lanjut Yenti juga menodong penegak hukum agar bertindak lekas dalam menelusuri dan menyita aset para pihak yang terlibat dengan skandal pengelolaan investasi Jiwasraya, sebab uang itu harus dikembalikan pada yang berhak.

“Para penegak hukum harus memberikan buah jera kepada para pelaku, barang apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah tindak puncucian uang. ” Tutup Yenti.

Sebagaimana diketahui, Jaksa Agung Muda Tindak Kejahatan Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Ali Mukartono menyatakan, Kejagung telah menambah jumlah nilai aset yang berhasil disita terkait korupsi di PT Asuransi Jiwasraya sebesar Rp 18. 4 triliun.

“Penyidik berhasil menyita aset berupa tanah, mobil, uang, saham, dan sebagainya. Kalau ditaksir senilai Rp 18, 4 triliun, ” kata Ali di Kantor Kejaksaan Agung MENODAI, Jakarta, Selasa (7/7).

Menurut Ali, kerugian negara di dalam kasus korupsi Jiwasraya sebagaimana diungkap Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) sejatinya hanya Rp 16. 8 triliun. Sementara itu, hasil sitaan dengan ditindak oleh Kejaksaan Agung RI lebih dari taksiran dari BPK.

Menurutnya, hal itu sengaja dilakukan oleh penyidik untuk mengantisipasi fluktuasi saham dan aset yang bergerak. Tujuannya untuk meminimalisir kerugian negara dalam kasus itu.

“Kelihatannya ini terlalu dari kerugian negara. Memang berniat penyidik melakukan itu karena ada saham yang sifatnya fluktuatif. Masih berlaku di pasar, ” ungkapnya.

Ali juga menegaskan, penyitaan itu tidak lain untuk mengedepankan hak terkait pengembalian derma para nasabah Jiwasraya.

“Niat baik penyidik ini ujung-ujungnya harus memenuhi hak-hak dari nasabah. Sehari kemarin saja ada kemalangan sekitar Rp 700 miliar sehingga barang bukti ini harganya perubahan. Dalam kerangka itu, meskipun itu tipikor tidak terkait nasabah. Kita berhadapan institusi negara sebagai objek, dalam hal ini adalah BUMN atau Jiwasraya, ” pungkasnya. ‎

Saksikan video menarik berikut ini: