Para Penghobi Memburu Tanaman Karnivora tenggat Pegunungan

Para Penghobi Memburu Tanaman Karnivora tenggat Pegunungan

Tanaman karnivora punya keunikan yang menarik bagi penggemarnya. Merawatnya juga penuh tantangan. Apalagi proses pencariannya. Mereka kudu menyusuri beberapa daerah yang tak biasa.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

BEBERAPA   pot kecil, kantong plastik, serokan, pisau, dan gunting. Tersebut hanya sebagian bekal yang kudu dibawa sebelum hunting tanaman karnivora. Semua peralatan tersebut dimasukkan Anugrah Bimo Prakoso ke dalam tasnya. Dia juga membawa kamera serta TDS meter. Belum lagi, keinginan pribadinya. Mulai snack, baju penukar, hingga jaket.

Maklum, medan pencarian tanaman karnivora memang agak unik. Lokasinya bukan lapangan luas atau hutan-hutan biasa. Medannya menantang dan bukan jaminan menemukan apa yang dicari. Misalnya, Bimo dan kawan-kawannya pernah menuju kali di Bangkalan untuk mencari flora karnivora yang hidup di tirta. ”Kalau sudah gitu, ya berenang nyebur bareng meski akhirnya hanya nemu ikan, ” ucapnya, kemudian tertawa.

Pencarian yang gagal sebenarnya tak hanya sekadar dua kali dialami. Bimo serupa pernah dekat sekali dengan bercak impiannya. Yaitu, di balik deraian air terjun Tumpak Sewu. Barangkali, di balik air terjun tersebut banyak sekali kantong semar. ”Tapi, kondisi air terjun kan kencang sekali, jadi berhenti dan belum bisa coba ke sana sedang, ” kenangnya dengan raut patah hati.

Kawasan hutan di Lumajang dan Gunung Ijen serupa pernah dikunjungi Bimo dan kawan-kawan. Jangan dikira tanaman karnivora terang mencolok di kawasan semacam itu. Kalau sudah di habitat asli, mereka harus melongok ke semak-semak. ”Bayangkan, jenis drosera burmanii itu ada yang ukuran daunnya 0, 5−1 milimeter! ” ucap Hadrian Yonata, salah seorang kawan Bimo.

Tanaman karnivora memang sering sekali dengan kondisi lembap serta basah. Jadi, para pemburu sudah memperkirakan kondisi licin. Hal itulah yang membuat pencarian tanaman karnivora terbilang berat. ”Mereka kalau musim hujan itu baru mekar-mekarnya. Jika kita datang saat kemarau, enggak akan ketemu apa-apa, ” sahut Akhmad Dany Ardavie.

Padahal, datang ke hutan, paya, atau air terjun saat musim hujan berarti cari perkara. Maka, saat yang paling aman buat hunting adalah musim peralihan abu menuju kemarau.

Zaman menemukan tanaman karnivora di habitatnya, mereka tak boleh asal meniadakan. Hal pertama yang dilakukan ialah memfoto kondisi asli tanaman serta gambaran habitat asli. Itu menjadi acuan selanjutnya untuk membuat tumbuhan nyaman setelah dibawa pulang. Kemudian, mereka akan mencari sumber air terdekat. Air dari danau atau sungai terdekat tersebut diukur secara TDS meter. ”Kalau ukurannya di bawah 100 ppm, itu berguna mineralnya rendah sekali untuk flora, ” jelas Ian, sapaan Hadrian.

Baca Serupa: Usaha Bangkit, Mampu Nabung, bahkan Sedekah

Mencari tanaman karnivora memang tak selalu berhasil dengan membawanya kembali. Kalau kondisi asal tak mampu ditiru di rumah, mereka tak akan tega membawa pulang jiwa tanaman dan mengabadikan lewat kamera saja. Membawanya sama saja dengan membunuhnya pelan-pelan.

Mendatangkan pulang tanaman karnivora berarti harus membuat kondisi yang nyaman untuk tanaman tersebut. Evan Yonatan Darmono termasuk yang jatuh bangun untuk menghasilkan kondisi optimal bagi tumbuhan karnivora miliknya. ”Antara suhu, kelembapan, kecukupan air, dan matahari. Dulu mati terus, rasanya penasaran, ” ungkapnya. Tak jarang, mereka harus menambah beberapa alat di sendi. Misalnya, sprinkler dan humidifier untuk menjaga kelembapan. Evan juga kudu mencari bagian rumah yang tetap terpapar sinar matahari.

Saksikan video menarik dibawah ini: