Penelitian LSI Denny JA: Warga Lebih Cemas Soal Ekonomi Dibanding Covid-19

Penelitian LSI Denny JA: Warga Lebih Cemas Soal Ekonomi Dibanding Covid-19

JawaPos. com – Masyarakat Indonesia ternyata lebih cemas karena kesulitan ekonomi dibanding dengan pandemi Covid-19. Hal itu terungkap dalam hasil riset dan analisis Lingkaran Survei Nusantara (LSI) Denny JA.

“Setelah melewati lima hingga enam bulan dicekam oleh pandemi. Ternyata terjadi pergeseran kecemasan. Yakni masyarakat lebih cemas karena ancaman kesulitan ekonomi, dibanding cemas terpapar virus corona, ” ujar Peneliti LSI, Denny JA, Rully Akbar era memaparkan riset terbaru lembaganya, Jumat (12/06).

Rully mengucapkan, riset ini dilakukan dengan menganalis data sekunder dari berbagai sumber dari dalam dan luar negeri. Ada tiga sumber data LSI yang gunakan untuk menggambarkan beralihnya bentuk kecemasan.

Prima, data Galup Poll (2020), institusi survei opini publik berpusat di Amerika Serikat.   Pada periode  6-12 April 2020, kecemasan berasaskan virus corona berada di angka 57 persen.

Tengah kecemasan atas kesulitan ekonomi berharta di angka 49 persen.   Namun periode 11-17 Mei 2020, angka kecemasan itu sudah turun. Kecemasan publik atas virus corona menurun ke angka 51 tip. Sementara kecemasan atas kesulitan ekonomi menanjak melampaui kecemasan atas virus di angka 53 persen.

Kedua, data dari VoxPopuli Center, lembaga opini publik Indonesia. Pada tanggal 26 Mei- 1 Juni 2020, lembaga ini menyelenggarakan survei telefon atas 1200 responden Indonesia yang dipilih secara random.

Hasilnya, 25. 3 persen publik khawatir terpapar oleh virus corona. Namun lebih gede lagi, sekitar 67, 4 komisi publik khawatir akan kesulitan ekonomi atau bahkan kelaparan.

Ketiga, riset eksperimental yang dilakukan LSI pada Maret- Juni 2020. Ini bukan survei opini terbuka tapi riset eksperimental untuk menyidik lebih detail kekhawatiran responden.   Total responden berjumlah 240 mahasiswa.

LSI juga menemukan ada lima alasan mengapa di Indonesia juga mengalami pergeseran  sebab kecemasan terpapar oleh virus korona beralih dan dikalahkan oleh kecemasan terpapar kesulitan ekonomi.

Pertama, meluasnya berita kisah sukses banyak negara. Cukup massif berita media konvensional ditambah media baik memberitakan banyak negara sudah melampaui puncak pandemik.

Virus corona di negara tersebut nisbi bisa dikendalikan, walau vaksin belum ditemukan.   Negara yang kerap diberitakan sukses adalah Selandia Pertama, Jerman, Hong Kong dan Korea Selatan.

Kedua, meluasnya kemampuan protokol kesehatan dalam mengurangi tingkat pencemaran virus corona. Social distancing, cuci tangan, masker merupakan tiga cara paling populer dalam protokol kesehatan itu. Terbentuk suruhan kuat, walau vaksin belum terlihat, manusia punya alat lain buat melawan, untuk melindungi diri.

“Adanya protokol kesehatan yang efektif ini juga mengurangi tingkat kecemasan. Tidaklah benar kita sedikit pun tak berdaya menghadapi virus baik vaksin belum ditemukan, ” perkataan Rully.

Ketiga, simpanan ekonomi umumnya semakin menipis. Semakin lama berlakunya lockdown, pembatasan baik, ditutupnya aneka dunia usaha, semakin berkurang kemampuan ekonomi rumah tangga.

Di saat kebingungan atas terpapar virus korona menyusut, kecemasan atas kesulitan ekonomi naik. Terutama dirasakan di lapisan menengah bawah, apalagi sektor informal, tanda akan kesulitan ekonomi, bahkan kelaparan terasa lebih mengancam dan kongkret.

Keempat, jumlah masyarakat yang secara kongkret terkena kesulitan ekonomi jauh melampaui jumlah awak yang terpapar virus corona. Menaker melaporkan jumlah Pemutusan Hubungan Kegiatan (PHK) ditambah yang dirumahkan had Juni 2020 sekitar 1, 9 juta orang.

Sementara  Asosiasi Pengusaha Indonesia, melaporkan jumlah yang lebih banyak lagi sebab juga menghitung sektor informal. Total yang di PHK sudah 7 juta warga. Hingga 11 Juni 2020, dari data Worldometer, yang terpapar virus corona di Nusantara kurang dari 35 ribu awak. Angka pasien yang wafat sebab virus corona kurang dari dua ribu warga.

Bila kita bandingkan yang terpapar virus ekonomi (PHK, dirumahkan, juga di sektor informal) vs terpapar virus corona: 7 juta vs 35 ribu.

“Artinya, yang terpapar virus ekonomi 200 kali lebih banyak dibandingkan yang terpapar virus corona. Wajar saja bila kecemasan atas kesulitan ekonomi benar lebih massif, lebih dirasakan penuh orang, ” ujarnya.

Kelima, hingga Juni 2020, semakin hari grafik yang terpapar, makin yang wafat karena virus corona semakin landai dan menurun. Sebaliknya, grafik kesulitan ekonomi, diukur sejak yang di PHK, yang menjemput pesangon Jamsostek bertambah dari bulan ke bulan.

“Grafik ini ikut juga membuat kecemasan atas terpapar virus corona melemah, sementara kecemasan atas virus ekonomi meninggi. ” imbuhnya.

Ditambah, ancaman kelaparan dan pengganggu ekonomi itu riil dirasakan Mereka mudah sekali dipantik untuk menyelenggarakan kerusuhan sosial. Hal ini tentunya harus dijaga agar krisis kesehatan tubuh tidak berubah menjadi krisis baik, lalu menjadi krisis politik.