Petahana Kalah di Pilkada Jember, Ini Kata Pengamat

Petahana Kalah di Pilkada Jember, Ini Kata Pengamat

JawaPos. com –Pengamat politik Universitas Jember, Jawa Timur, Muhammad Iqbal memaparkan, penyebab kekalahan calon bupati Jember yang juga petahana Faida dalam Pilkada Jember 2020.

”Secara agregat masyarakat mampu dikatakan sudah kurang berminat di kepemimpinan Faida dan sangat menggunakan perubahan. Sehingga perlu pergantian kepala daerah, ” kata Iqbal bagaikan dilansir dari Jarang di Kabupaten Jember, Rabu (9/12).

Bersandar hasil hitung cepat yang dirilis Citrapublik adv kerja sama dengan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan, pasangan Calon Tumenggung dan Wakil Bupati Nomor Runtut 2 Hendy Siswanto dan M. Balya Firjaun Barlaman (Hendy-Firjaun) memenangi kontestasi Pilkada Jember 2020 secara meraih suara 47, 9 upah. Pasangan cabup petahana atau bagian urut 1 Faida-Dwi Nugraha Oktavianto (Vian) meraih 30, 41 upah dan pasangan calon nomor runtut 3 Abdussalam-Ifan Ariadna (Salam-Ifan) meraup 21, 64 persen. Sehingga, Hendy-Firjaun unggul dengan selisih 17, 54 persen dibandingkan paslon Faida-Vian.

”Secara statistik hasil quick count menggunakan margin of error atau besaran rentang kesalahan maksimal sebesar +/- 1 persen. Ini berarti Hendy-Firjaun sangat signifikan memenangkan pilkada patuh versi hitung cepat LSI Denny JA, ” ucap Iqbal, pakar komunikasi FISIP Unej itu.

Dia menilai, kunci kemajuan Hendy-Firjaun berkat keunggulan suara pada tiga daerah pemilihan (dapil). Yaitu dapil 1, 3, dan 4 yang meraih dukungan di pada 50 persen suara. Selain tersebut, di dapil 5 juga menolong suara kemenangan hampir 50 komisi. Artinya kalau dibaca secara demografis, Hendy-Firjaun umumnya unggul di asas suara masyarakat perkotaan dengan total penduduk yang sangat padat (Sumbersari, Wuluhan, Kaliwates, dan Patrang).

”Umumnya, psikologi masyarakat perkotaan lebih aktif mengikuti arus keterangan kebijakan Bupati Faida dan semasa lima tahun petahana sangat banyak diterpa hard issue yang cenderung dinilai buruk kinerjanya, ” tutur Iqbal.

Menurut dia, faktor lain adalah Hendy-Firjaun juga ulung di basis suara masyarakat pesisir (Ambulu dan Puger) akibat munculnya kontroversi bantuan pelampung nelayan sebab Bupati Faida sangat mungkin mempengaruhi psikologis dan persepsi politik dengan sentimen negatif masyarakat nelayan terhadap Faida.

Berdasar faktor-faktor itu, lanjut dia, secara konglomerat masyarakat dapat dikatakan sudah invalid berminat pada kepemimpinan Faida serta sangat memerlukan perubahan dan pergantian kepala daerah.

”Maka, kita tinggal menagih seluruh janji-janji Haji Hendy dan Gus Firjaun untuk benar-benar Wayahe Mbenahi Jember . Selamat sampai bupati baru, ” ujar Iqbal.

Secara resmi, tahap Pilkada Jember 2020 masih harus menunggu rekapitulasi hasil penghitungan pandangan oleh KPU Jember sekaligus penetapan hasil rekapitulasi suara pemilihan bupati dan wakil bupati pada 13–17 Desember.

Saksikan video menarik berikut ini: