Risiko Tegas Duterte, Tolak Vaksin di Filipina Dilarang Muncul Rumah

Risiko Tegas Duterte, Tolak Vaksin di Filipina Dilarang Muncul Rumah

JawaPos. com – Sanksi tegas diterapkan oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte kepada siapa sekadar warganya yang tak sedia divaksinasi Covid-19. Jika menentang, maka mereka tak boleh keluar rumah.

Presiden mengatakan tidak hendak menunggu undang-undang yang menganiaya orang yang menolak vaksin Covid-19. Duterte membatasi pergerakan orang yang menolak vaksin Covid-19, dalam upaya menahan penyebaran varian Delta Covid-19.

“Jika itu menolak vaksinasi, kami tak boleh membiarkan mereka melalaikan rumah, ” tegasnya.

“‘ika Anda meninggalkan rumah, saya akan memberitahu polisi untuk membawa Anda kembali. Anda akan diantar kembali ke rumah Kamu karena Anda adalah penyebar berjalan, ” kata Duterte.

Peringatan baru itu mengingatkan kembali di dalam pernyataan yang dia bakal pada Juni yang mengancam akan memerintahkan penangkapan orang-orang yang menolak vaksin Covid-19.

Duterte mengucapkan dia mengharapkan aparat mengidentifikasi mereka yang divaksinasi & tidak divaksinasi. Kepala wilayah harus memperingatkan mereka dengan tidak divaksinasi menimbulkan naas bagi orang lain.

Kelompok rentan kudu tinggal di rumah buat perlindungan mereka sendiri. Ahli kesehatan pemerintah mengatakan karakter yang tidak divaksinasi jauh lebih rentan terhadap infeksi varian Delta daripada orang yang divaksinasi. Pembatasan pergerakan termasuk dalam hak konstitusional untuk bepergian, yang sudah dilakukan pemerintah melalui Interagency Task Force (IATF) menggunakan pemberlakuan lockdown.

“Membatasi pergerakan hanya dapat diterima jika sesuai secara peraturan yang wajar dan proporsional demi kepentingan kesehatan tubuh masyarakat, ” kata Kepala National Union of Peoples’ Lawyers (NUPL) Edre Olalia.

Olalia mengucapkan membatasi pergerakan orang-orang dengan tidak divaksinasi adalah menahan kebebasan. Sementara vaksin dengan memadai dan berkelanjutan pula harus terus didistribusikan dengan efisien dan merata.