Soal Mahasiswa UNS, Istana: Tersebut Negara Demokrasi, Presiden Tidak Baper

Soal Mahasiswa UNS, Istana: Tersebut Negara Demokrasi, Presiden Tidak Baper

JawaPos. com – Sebanyak sepuluh mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) ditangkap usai menyampaikan aspirasinya saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan kerja ke kampus tersebut. Para mahasiswa diketahui menyampaikan aspirasinya melalui bentangan poster.

Menanggapi hal itu, Staf Khusus Menteri Carik Negara (Mensesneg) Faldo Maldini mengatakan Presiden Jokowi tak pernah merasa tersinggung saat dikritik. Kritikan akan menjelma evaluasi bagi pemerintah.

“Harusnya biasa sekadar, Presiden tidak akan pernah merasa tersinggung atau baper sama kritik mahasiswa. Jelas aspirasi tersebut menjadi petunjuk dan bahan pemikiran untuk pemerintah. Ini negara demokrasi, ” ujar Faldo kepada wartawan, Selasa (14/9).

Namun demikian, Faldo mengaku tidak bisa mengintervensi terhadap penanganan pihak kepolisian. Sebab, Korps Bhayangkara telah punya berbagai standar di dalam pengamanan terhadap kepala negara.

“Apalagi, tersebut pandemi. Aparat tentu sudah punya berbagai perhitungan buat melakukan tindakan preventif. Pemimpin datang saja sudah berpotensi besar mengakibatkan kerumunan, makin ditambah aksi demonstrasi, ” katanya.

Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini menambahkan, ditangkapnya mahasiswa tersebut juga untuk perkiraan oleh pihak polisi. Sebab dia menakutkan adanya berkelahi antara mahasiswa dengan pendukung Presiden Jokowi.

“Pendukung Pak Jokowi serupa selalu bersiap di lapangan setiap kunjungan, bisa beradu nanti dan hasilnya positif lebih buruk, ” ungkapnya.

“Berkali-kali awak terima informasi macam ini. Kita harus hindari, itu soal bangsa bukan soal politik. Jadi harus saling jaga, ” tambahnya.

Diketahui, sepuluh mahasiswa UNS ditangkap usai mengirimkan aspirasinya melalui bentangan poster kepada Presiden Jokowi. Perihal terjadi pada Senin (13/9) kemarin ketika Jokowi pegari melaksanakan kegiatan di Auditorium FK UNS.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS Zakky Musthofa pun menyampaikan sikap kepada aksi penangkapan tersebut. Pihaknya tidak terima pembungkaman dengan cara ditangkap.

“Mengecam dan mengutuk sikap represif aparat terhadap mahasiswa UNS karena apa yang diperbuat bukan tindakan kriminal atau perbuatan melawan asas, ” ujar dia.

Padahal, itu ialah upaya pihaknya untuk mampu menyampaikan aspirasi secara tepat kepada Presiden Jokowi. Pasalnya, pihak kampus sendiri pun tidak memfasilitasi mahasiswa buat menyampaikan pandangan mereka.

Ia menilai bahwa tindakan tersebut telah mengabaikan hak kebebasan masyarakat pada menyuarakan pendapatnya. Menurutnya, itu merupakan bukti bahwa pemerintah dan aparat telah memperdayai terhadap amanat reformasi.

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa keterangan, dikira subversif dan memusingkan keamanan maka hanya tersedia 1 kata, lawan!, ” tegasnya.