Tak Perlu Takut, Habib Rizieq Sepatutnya Penuhi Panggilan Polisi

Tak Perlu Takut, Habib Rizieq Sepatutnya Penuhi Panggilan Polisi

JawaPos. com – Polisi kembali menjadwalkan pemeriksaan terhadap Habib Rizieq Shihab (HRS), Senin, 7 Desember. Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu diharapkan bisa memenuhi panggilan Polda Metro Jaya (PMJ).

Taat pengamat politik Maksimus Ramses Lalongkoe, HRS seharusnya bisa memberi tamsil baik ke publik khusunya bagi para pendukungnya dengan datang ke Polda Metro untuk menjalani penelitian.

“Saya kira, siapapun di negeri ini harus patuh hukum. Dan yang perlu digaris bawahi, pemanggilan itu kan belum tentu bersalah. Jadi saya budi tak perlu takut, ” sirih Maksimus, Minggu, (6/12).

Diketahui, sedianya HRS diperiksa mula pekan lalu, namun tidak sampai. Penyidik kemudian melayangkan surat panggilan kedua, langsung ke kediaman HRS di Petamburan, Jakarta Pusat.

Penyidik Polda Metro merasa perlu memeriksa HRS sebagai saksi terkait kerumunan saat acara pernikahan putrinya di Petamburan. Acara itu diduga melanggar Undang-Undang Nomor enam Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan tubuh.

Menurut Maksimus, indah HRS maupun pendukungnya tidak perlu khawatir, karena dia diperiksa dalam kapasitas sebagai saksi. Seharusnya, tersebut menjadi kesempatan baginya untuk menunjukan itikad taat hukum.

“Jika beliau tidak hadir, malah itu memberi preseden buruk untuk beliau sendiri dan para pengikutnya. Pendukung juga harus mentaati patokan karena semua warga itu cocok di mata hukum, ” urainya.

Selain itu, Maksimus juga berharap, para pendukung HRS juga tidak perlu ramai-ramai ke Polda Metro, karena proses adat tidak bisa diintervensi. “Saya pikir, beliau (Rizieq) harus mengimbau pendukungnya agar tidak datang ke Polda Metro apalagi saat ini padahal ada pandemi Covid-19, ” perkataan Maksimus.

Desakan supaya penegak hukum tegas memproses terkaan pelanggar protokol kesehatan dalam kesibukan pernikahan putri Rizieq juga disampaikan anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Ninik Rahayu.

Patuh Ninik, perbuatan HRS berpotensi ditiru masyarakat. Jika tak ada tindakan tegas, Indonesia akan mengalami perkara besar terkait penerapan protokol kesehatan tubuh. Di sisi lain, tenaga medis berjuang mati-matian melawan Covid-19.

“Harusnya aparat keamanan mampu bertindak tegas kepada siapa pula yang melanggar protokol kesehatan, tidak tebang pilih. Kalau sudah diingatkan, tetapi masih dilanggar, maka law enforcement harus ditegakkan, ” tegasnya.