Tanda bahaya, Kasus Aktif Covid-19 pada Gresik Perlahan Terus Beranjak

Tanda bahaya, Kasus Aktif Covid-19 pada Gresik Perlahan Terus Beranjak

JawaPos. com – Ini bisa menjadi alarm dan atensi bersama. Pertama satgas Covid-19. Dalam sepekan terakhir, tren kasus rajin di Kabupaten Gresik langsung meningkat. Meski relatif tidak drastis, jika tidak tersedia antisipasi, tetap ada buntut potensi persebaran.

Kasus aktif adalah penderita yang dinyatakan positif Covid-19 dan sedang menjalani pembelaan. Angka didapatkan dari pengurangan total kasus terkonfirmasi nyata Covid-19 dengan angka kesembuhan dan kematian. Semakin kecil kasus aktif, berarti semakin baik pencegahan dan pengoperasian. Nah, mulai 23 datang 29 April, terdata tetap ada kenaikan.

Data yang dihimpun Jawa Pos, pada 23 April 2021, jumlah kasus aktif sebanyak 47 orang. Sejak tanggal tersebut, ternyata kasus aktif itu perlahan beranjak 1–2 orang. Hingga Kamis (29/4), jumlahnya menjadi 54 orang. Adapun total kasus positif 5. 540 orang, sembuh 5. 133 orang, dan meninggal 353 orang (selengkapnya lihat grafis).

Kabupaten Gresik pernah mencatatkan rekor terendah kasus aktif pada 17 Desember lalu. Saat tersebut, jumlahnya hanya 17 orang. Rekor kasus aktif paling tinggi terjadi pada 25 Januari 2021. Jumlahnya mencapai 338 orang. Ketika itu, dekat semua ruang isolasi penderita Covid-19 di rumah kecil penuh. RSUD Ibnu Sina pun membuka semua tempat isolasinya. Bahkan, banyak anak obat yang terpaksa tertahan pada IGD.

Pemimpin DPRD Gresik M. Abdul Qodir berharap satgas Covid-19 dan semua pihak tidak lengah. Dia menegaskan, pandemi belum berakhir. Bahkan, bersekolah dari tsunami Covid-19 pada India dan beberapa negeri lain, kesadaran dan kecermatan mesti ditingkatkan. Terutama menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Politikus PKB itu khawatir berbagai susunan ketat yang sudah terekam hanya selesai di pada kertas. Khususnya tentang pembatasan mudik.

’’Perlu strategi jitu untuk memajukan kesadaran akan protokol kesehatan. Dan, pemerintah punya sumber daya akan hal itu, ’’ ujarnya.

Dia juga menyoroti program vaksinasi massal yang terasa melambat jika dibandingkan dengan Surabaya dan Sidoarjo jadi daerah tetangga. Dia mengucapkan, jika alasannya keterbatasan vaksin, satgas perlu meningkatkan koordinasi dan menekan pemerintah induk untuk meminta tambahan bagian vaksin.