Tempat-Tempat Berisiko Penularan Covid-19

Tempat-Tempat Berisiko Penularan Covid-19

MUNGKIN , pada pandemi Covid-19 seperti yang saat ini kita alami, berdampingan dengan seseorang yang sedang batuk atau bersin bertambah menakutkan daripada gonggongan anjing berangasan.

Bagi orang dengan cukup literasinya tentang perkembangan Covid-19 dari waktu ke waktu, perilaku itu tidak berlebihan.

Hampir setiap waktu muncul fakta baru terkait Covid-19. Hal tersebut bukan sesuatu yang mengherankan karena Covid-19 merupakan penyakit baru. Berdampak sangat luas. Tidak hanya dibanding sisi medis, namun juga di dalam hampir semua sendi kehidupan. Para ahli tertantang untuk mengungkap penuh hal, terutama untuk bisa menyambut bagaimana SARS-CoV-2 yang merupakan virus penyebab Covid-19 bisa ditularkan antarmanusia.

Penularan Covid-19 sangat sulit dipastikan dari mana asalnya. Namun, ada beberapa tempat dengan disebut-sebut mempunyai risiko lebih mulia untuk terjadinya penularan. Diperlukan suatu kecerdasan cara berpikir dan logika agar seseorang bisa ”mendeteksi” kehadiran mereka, apakah aman atau tidak dari kemungkinan terjadinya risiko penularan tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang merupakan kiblat para ahli di bidang kesehatan tubuh pada 9 Juli 2020 menyatakan bahwa penularan Covid-19 dapat berlaku melalui udara (airborne transmission). Berarti, partikel virus yang berasal dari seseorang yang di dalam tubuhnya mengandung virus dapat menularkannya kepada orang lain melalui aktivitasnya bagaikan bernapas, berbicara, menyanyi, bersiul, tertawa, apalagi saat batuk atau bersin. Informasi terdahulu yang sudah penuh dipahami masyarakat adalah tentang jalan penularan virus ini melalui droplet. Dengan pola penularan yang begitu ini, menjaga jarak antarindividu lebih dari 1 meter, sering membersihkan tangan menggunakan sabun atau disinfektan berbasis alkohol, serta menggunakan kedok dan pelindung wajah (face shield) merupakan cara-cara pencegahan penularan yang cukup optimal. Dengan informasi terbaru cara penularan secara airborne, apakah tindakan preventif yang disebutkan tadi telah mencukupi?

Buat menjawab pertanyaan di atas, ada suatu data penelitian yang menguraikannya secara matematis. Berdasar studi kepada jenis virus korona lainnya, kurang peneliti memperkirakan, untuk terjadinya suatu infeksi, dibutuhkan sedikitnya 1. 000 partikel virus (PV) SARS-CoV-2 yang bisa memasuki tubuh seseorang (bisa melalui saluran napas, selaput riak mata, ataupun selaput lendir metode cerna). Sejumlah PV tersebut sanggup diperoleh melalui 10 kali menghirup udara (inhalasi), di mana di setiap kali inhalasi memasukkan 100 PV atau bisa juga melalui 100 kali inhalasi. Masing-masing inhalasi menyimpan 10 PV. Masing-masing situasi tersebut dapat melukiskan bagaimana pola transmisi terjadi. Dengan pola ilustrasi dengan kurang lebih serupa, setiap kali seseorang pembawa virus mengalami batuk hendak dapat melepaskan 3. 000 droplet dengan kecepatan 50 mil/jam. Ukuran droplet setidaknya 5 mikron & karena relatif berukuran ”besar” bakal lebih cepat mengikuti gaya gravitasi dan menempel pada benda-benda sekitarnya. Droplet hanya bisa ”terbang” mencapai 1–2 meter dalam waktu enam detik.

Di sisi lain, bersin dapat melepaskan kira-kira 30. 000 droplet dengan kecepatan yang cukup fantastis: 200 mil/jam! Apabila dianalisis lebih mendalam, seseorang yang telah terinfeksi Covid-19 dan mengalami sekali batuk atau bangkis mampu melepaskan sekitar 200 juta PV yang akan tersebar merebak di lingkungan sekitarnya.

Persoalan yang lebih pelik ialah pada seseorang yang telah terkena Covid-19 tanpa menampakkan suatu isyarat (kasus konfirmasi tanpa gejala) adalah individu infeksius tanpa orang asing tahu bahwa yang bersangkutan merupakan pembawa virus. Sama dengan karakter yang menampakkan gejala klinis. Keduanya saat bernapas biasa mampu melepaskan 50–5. 000 droplet. Karena gaya mengeluarkan udara pernapasan relatif kecil, pernapasan biasa tidak akan membawabawa sekret dari saluran napas arah bawah yang populasi PV-nya benar padat. Diperkirakan, kondisi demikian ”hanya” melepaskan 20 PV per menit. Sedangkan berbicara dapat mengeluarkan 200 PV per menit.

Berdasar ilustrasi perhitungan matematis dalam atas, dapat diformulasikan sebagai berikut: seseorang yang tertular adalah akibat banyaknya PV dikalikan faktor waktu.

Sebagai contohnya, bila seseorang mengalami batuk atau bersin, 200 juta PV akan tersebar. Beberapa PV di antaranya hendak bertahan ”melayang-layang” di udara. Beberapa lainnya akan mengikuti gravitasi dan menempel pada suatu permukaan benda. Ada juga yang ”jatuh” di tanah atau lantai. Jadi, kalau seseorang secara tatap muka berbahasa atau sedang batuk/bersin langsung di hadapan orang lainnya, akan dengan mudah menghirup 1. 000 PV untuk mengakibatkan suatu penularan.

Di pihak lain, meniti suatu pernapasan biasa, akan berkecukupan mengeluarkan 20 PV per menit. Untuk mengakibatkan suatu penularan, 1. 000 PV dibagi 20 PV/menit akan diperoleh waktu 50 menit. Dengan cara perhitungan yang sepadan, berbicara secara tatap muka mau memerlukan waktu 5 menit buat dapat menularkan (perhitungannya: 1. 000 PV dibagi 200 PV/menit).

Perhitungan matematis tersebut diperlukan untuk mempertimbangkan suatu kebijakan/aturan yang bisa diterapkan agar seseorang terhindar dari suatu penularan. Disiplin mewujudkan protokol kesehatan masih merupakan terampil punggung tindakan preventif. Meski serupa itu, ada beberapa faktor lainnya dengan layak diperhitungkan seperti adanya aliran udara melalui ventilasi yang mencukupi karena cara ini dapat mengurangi kepadatan PV. Rancangan suatu ruangan juga harus mempertimbangkan sinar matahari yang cukup, temperatur ruang, mengikuti kelembapan tertentu yang dapat membujuk ketahanan PV yang pada gilirannya dapat meminimalkan terjadinya penularan.

Dengan rangkaian penjelasan di atas, kita bisa memperkirakan daya penularan yang terjadi bila seseorang berada pada suatu area tertentu seperti bar, menghadiri suatu perhelatan pernikahan, restoran, kantor/tempat kerja, pelajaran paduan suara, pusat kebugaran (indoor sports), tempat ibadah masal, taman hiburan, basket, kolam renang, salon kecantikan, bioskop, naik pesawat, pemindahan umum, mal, dan tempat-tempat yang lain yang dapat mendatangkan massa buat berkumpul. (*)

*) Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam FKUA/RSUD dr Soetomo Surabaya

Saksikan gambar menarik berikut ini: